KALIMANTAN – Industri hulu minyak dan gas bumi di Kalimantan kini tidak hanya berorientasi pada pencapaian target produksi energi nasional. PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) bersama entitas di Zona 9 secara konsisten mengintegrasikan operasional bisnis dengan program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) yang memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan warga di sekitar wilayah kerja.
Sepanjang semester pertama tahun 2026, program PPM ini telah menjangkau lebih dari 750 penerima manfaat langsung. Aksi sosial ini dijalankan secara kolaboratif oleh unit operasi di bawah PHI, yakni PT Pertamina EP (PEP) Sangatta Field, PEP Sangasanga Field, PEP Tanjung Field, serta PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).
General Manager Zona 9, Dadang Soewargono, menegaskan bahwa keberlanjutan operasi hulu migas sangat bergantung pada keharmonisan hubungan dengan masyarakat lokal. Oleh karena itu, program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dirancang untuk membangun kapasitas, bukan sekadar pemberian bantuan sekali jalan.
“Masyarakat yang mandiri dan berdaya adalah kunci keberlangsungan perusahaan. Kami ingin membangun kapasitas agar mereka mampu mengembangkan potensi lokal secara mandiri dan menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Dadang.
Setiap inisiatif PPM di Zona 9 disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi unik tiap wilayah, mencakup sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga infrastruktur. Pendekatan ini merupakan bagian integral dari penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan Environmental, Social, and Governance (ESG) untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.
Berbagai program pemberdayaan telah menunjukkan keberhasilan nyata. Di wilayah PEP Tanjung Field, program SEKARA JIRAK dan LESTARI Belimbing berhasil melahirkan produk bernilai ekonomi tinggi, seperti amplang berbahan ikan Haruan yang memberikan margin keuntungan hingga 30 persen bagi kelompok pengrajin.
Sementara di PEP Sangatta Field, program Bintang Pertiwi dan ECO-STEP sukses mendongkrak pendapatan petani melalui pemanfaatan pupuk semi-organik dan metode hidroponik. Salah satu kelompok binaan bahkan mampu membukukan pendapatan bersih lebih dari Rp24 juta, sementara para petani mampu menekan biaya produksi hingga Rp5 juta per siklus panen.
Di sisi lain, PEP Sangasanga Field dan PHSS fokus pada penguatan SDM melalui pendidikan dan keterampilan praktis. Sebanyak 165 pelajar mengikuti kelas bahasa asing, sementara puluhan lainnya mendapatkan pelatihan barber dan barista. Pelatihan ini dirancang untuk memberikan bekal keterampilan agar alumni program dapat segera membuka peluang usaha mandiri.
Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, mengungkapkan bahwa perusahaan mengelola lebih dari 100 program PPM setiap tahunnya yang melibatkan pemerintah daerah dan komunitas lokal. Kolaborasi inilah yang memastikan terciptanya shared value (nilai bersama) yang awet dan bermanfaat luas.
Sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di bawah pengawasan SKK Migas, PHI dan Zona 9 terus menyeimbangkan ambisi produksi energi dengan tanggung jawab sosial. Dengan mengedepankan efisiensi, keselamatan kerja, serta pelestarian lingkungan, PHI membuktikan bahwa energi dari Kalimantan tidak hanya menjadi penggerak mesin industri, tetapi juga penggerak kesejahteraan masyarakat. Melalui semangat #EnergiKalimantanUntukIndonesia, perusahaan terus berupaya menciptakan fondasi masa depan yang lebih baik bagi seluruh pemangku kepentingan.[]











