SEANTERONEWS.com – Iran menyindir sikap Amerika Serikat (AS) yang dinilai mengirimkan pesan berbeda terkait meningkatnya ketegangan kedua negara. Teheran menilai Washington mengancam melalui pernyataan publik, tetapi di saat yang sama tetap mendorong jalur perundingan melalui komunikasi diplomatik.
Pernyataan tersebut disampaikan anggota parlemen senior Iran sekaligus Juru Bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri, Hassan Ghashghavi, pada Minggu (2/8/2026).
Menurut Ghashghavi, Iran tidak akan terpengaruh oleh tekanan maupun ancaman yang disampaikan Amerika Serikat.
“Di media, mereka berbicara tentang eskalasi, sementara melalui saluran yang ada mereka menuntut negosiasi,” kata Ghashghavi, dikutip dari Al Jazeera.
Ia menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak dapat dipaksa mengubah sikapnya, baik melalui ancaman militer maupun upaya diplomasi yang disertai tekanan.
“Mereka tidak dapat menipu Republik Islam Iran. Baik dengan eskalasi atau negosiasi, pengaturan Iran untuk jalur melalui Selat Hormuz adalah satu-satunya pilihan yang tersedia,” ujarnya.
Iran Tegaskan Kendali atas Selat Hormuz
Ghashghavi juga menegaskan bahwa, apa pun perkembangan situasi keamanan di kawasan, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz tetap akan berada di bawah pengaturan Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Sebut AS Tak Berani Serang Infrastruktur Energi
Sementara itu, Presiden Kamar Dagang dan Industri Iran-China, Majidreza Hariri, menilai Amerika Serikat tidak memiliki keberanian untuk menyerang infrastruktur energi Iran.
Menurut Hariri, ketahanan infrastruktur energi Iran jauh lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan Timur Tengah.
“Mereka tidak memiliki keberanian untuk melaksanakannya karena ketahanan Iran jauh lebih besar daripada negara-negara di kawasan ini dalam menghadapi penghancuran infrastruktur,” tulis Hariri melalui akun X.
Ia menjelaskan, jaringan listrik Iran merupakan salah satu yang paling terdesentralisasi di dunia dengan sekitar 150 pembangkit listrik yang tersebar di berbagai wilayah.
Kondisi tersebut dinilai membuat sistem kelistrikan Iran lebih sulit dilumpuhkan melalui serangan udara berskala besar dibandingkan negara yang memiliki jaringan listrik terpusat.[]









