SEANTERONEWS.com – Realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara nasional menunjukkan progres positif dengan melampaui separuh dari target tahunan [15]. Hingga posisi 12 Juli 2026, Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencatat serapan dana subsidi permodalan tersebut telah menembus angka Rp159,8 triliun, atau setara dengan 54,2 persen dari pagu anggaran tahunan sebesar Rp295 triliun. Aliran pembiayaan ini dilaporkan telah mengalir kepada sekitar 2,5 juta debitur pelaku usaha.
KUR sendiri merupakan instrumen pembiayaan berbunga murah dari pemerintah dengan batas maksimal pinjaman (plafon) mencapai Rp500 juta per pelaku usaha.
Capaian pembiayaan ini dilaporkan langsung oleh Sekretaris Kementerian UMKM, Loto Srinaita Ginting, saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama jajaran Komisi VII DPR RI pada Senin (13/7/2026).
“Dari jumlah tersebut, 1,1 juta merupakan debitur baru atau 83,5 persen dari target tahun ini. Sementara debitur graduasi mencapai 511.208 debitur atau 46,2 persen dari target,” jelas Loto dalam rilis data kementerian yang dikutip pada Selasa (14/7/2026).
Ia menambahkan bahwa penyaluran KUR untuk kelompok sektor produksi juga bergerak dinamis, dengan realisasi mencapai Rp103,2 triliun atau setara 64,6 persen dari sasaran utama. Pihak kementerian optimistis porsi sektor produksi ini mampu melampaui ambang batas minimal yang dipatok sebesar 65 persen pada akhir tahun anggaran.
Target Pembangunan Ekosistem UMKM 2026
Untuk diketahui, pada tahun anggaran 2026, pemerintah mematok target total penyaluran KUR sebesar Rp295 triliun dengan alokasi minimal 65 persen didedikasikan khusus bagi sektor-sektor produktif. Selain itu, pemerintah membidik penambahan 1,3 juta kelompok debitur baru serta mendorong sekitar 1,1 juta pelaku usaha agar naik kelas (graduasi) dari skema subsidi.
Di samping mempercepat serapan program KUR, Kementerian UMKM aktif memperluas ekosistem pembiayaan melalui beberapa program pendampingan strategis:
Program ACCESS: Hingga penutupan tahun 2025, kementerian telah memfasilitasi pembiayaan bagi 56 pelaku usaha skala menengah dengan nilai kemitraan mencapai Rp53,3 miliar yang disalurkan melalui delapan institusi keuangan.
Program BISLAF: Berkolaborasi dengan lembaga Inotek, inisiatif pendampingan ini sukses membantu 200 pelaku UMKM mengamankan akses pendanaan modal kerja senilai total Rp13,65 miliar.
Program Pendampingan Pembiayaan Perumahan Rakyat: Program pendampingan ini menargetkan jangkauan bagi 300 pelaku UMKM. Hingga akhir Triwulan I 2026, sebanyak 16 UMKM dilaporkan berhasil lolos dalam tahapan kurasi, sedangkan dua pelaku usaha di antaranya telah merampungkan draf digitalisasi pengelolaan keuangan internal mereka.











