SEANTERONEWS.com – Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) di pasar valas New York mencatatkan kenaikan moderat pada penutupan sesi perdagangan Senin (13/7/2026) waktu setempat. Indeks DXY, yang mengukur kekuatan mata uang greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia lainnya, terpantau naik 0,21 persen ke level 101,27.
Apresiasi mata uang Paman Sam ini didorong oleh eskalasi ketegangan geopolitik antara pihak Amerika Serikat dan Iran di kawasan strategis Selat Hormuz. Konflik di jalur pelayaran energi tersebut memicu lonjakan dramatis pada harga minyak mentah Brent yang meroket hingga 9 persen.
Di samping itu, penguatan dolar disokong oleh indikasi kebijakan moneter ketat (hawkish) yang ditunjukkan oleh jajaran petinggi Federal Reserve (The Fed) menjelang rilis draf data inflasi AS pekan ini, mencakup Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI).
Sinyal Kenaikan Suku Bunga Lanjutan
Anggota Dewan Gubernur The Fed, Christopher Waller, memberikan isyarat kuat mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan lanjutan apabila laju inflasi domestik masih tertahan jauh di atas ambang batas sasaran 2 persen. Pasar berjangka saat ini mulai mengalkulasi draf ekspektasi pengetatan suku bunga sekitar 30 basis poin hingga penutupan tahun ini.
Fokus perhatian para pelaku pasar kini tertuju pada rilis indikator inflasi tersebut, serta agenda penyampaian testimoni dari Chairman The Fed yang baru, Kevin Warsh, di hadapan kongres AS.
Koreksi Mata Uang Utama Global
Apresiasi nilai tukar Dolar AS ini secara langsung memberikan tekanan koreksi bagi sejumlah mata uang utama dunia:
Euro (EUR): Terpantau melemah sebesar 0,26 persen ke posisi 1,1383 Dolar AS.
Poundsterling (GBP): Melorot 0,40 persen ke level 1,3352 Dolar AS.
Dolar Australia (AUD): Terdepresiasi sebesar 0,47 persen ke posisi 0,6917 Dolar AS.
Yen Jepang (JPY): Terpangkas sebesar 0,46 persen, yang membuat Dolar AS semakin perkasa dan bertengger di posisi 162,43 Yen.











