BREAKING

BISNIS

IHSG Menguat, Rupiah Tembus Rp18.100 Akibat Tensi Global

IHSG ditutup naik 1,92 persen pada Senin (13/7/2026), namun rupiah tertekan ke level Rp18.109/USD. Sentimen geopolitik Timur Tengah dan dinamika hukum domestik jadi pemicu.

SEANTERONEWS.com – Pergerakan pasar keuangan Indonesia menunjukkan tren yang divergen pada perdagangan awal pekan, Senin (13/7/2026). Di tengah sentimen positif yang mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah justru mengalami tekanan hingga menembus level psikologis baru.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, IHSG ditutup menguat signifikan sebesar 113 poin atau 1,92 persen ke level 6.037. Aktivitas perdagangan terpantau ramai dengan volume transaksi mencapai sekitar 26 miliar saham senilai Rp12 triliun, serta frekuensi transaksi sebanyak 2,7 juta kali. Kapitalisasi pasar pun turut meningkat menjadi Rp10.533 triliun.

Secara sektoral, mayoritas saham mengalami penguatan. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 377 saham mencatatkan kenaikan, 250 saham melemah, dan 167 saham lainnya bergerak stagnan. Penguatan IHSG ini sejalan dengan rebound yang terjadi di sejumlah bursa Asia.

Rupiah Tertekan ke Rp18.100

Berbanding terbalik dengan pasar saham, mata uang rupiah melanjutkan tren pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 44 poin atau 0,24 persen, bertengger di posisi Rp18.109 per dolar AS. Level ini merupakan posisi terendah baru rupiah dalam tren pelemahan terkini.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal.

Dari sisi eksternal, meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi katalis utama penguatan indeks dolar AS. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas pasca serangkaian serangan rudal dan drone di kawasan Teluk. Klaim Iran mengenai penutupan kembali Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia, memicu kekhawatiran pasar global terhadap pasokan energi dan stabilitas ekonomi dunia.

“Dolar AS kembali menguat seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar global,” ujar Ibrahim dalam riset hariannya.

Dinamika Hukum Domestik Jadi Sorotan

Selain faktor global, Ibrahim juga menyoroti bahwa pelaku pasar tengah mencermati perkembangan dinamika penegakan hukum di dalam negeri. Salah satu yang menjadi perhatian adalah bergulirnya kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah.

Menurut Ibrahim, stabilitas dan kepastian sistem hukum memiliki korelasi yang sangat erat dengan iklim investasi dan tingkat kepercayaan pelaku usaha (ease of doing business). Kepastian hukum menjadi salah satu variabel penting yang memengaruhi perilaku ekonomi, efisiensi usaha, keputusan investasi, hingga inovasi.

“Apabila kepastian hukum mengalami penurunan atau dipersepsikan menurun, maka kepercayaan investor berpotensi ikut terdampak, yang pada akhirnya dapat memengaruhi target pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Ibrahim.

Lebih lanjut, Ibrahim berpendapat bahwa berbagai dinamika hukum yang terjadi saat ini menjadi perhatian serius bagi pasar karena dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi dan politik Indonesia secara keseluruhan.

Meskipun pandangan terkait dinamika hukum tersebut merupakan analisis pribadi narasumber, pelaku pasar secara keseluruhan tetap akan mencermati perkembangan geopolitik global, arah kebijakan moneter The Fed, serta berbagai rilis data ekonomi dan dinamika politik serta hukum di dalam negeri sebagai faktor penentu arah pergerakan pasar keuangan dalam jangka pendek hingga menengah.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts