SEANTERONEWS.com – Bagi masyarakat Tiongkok, Menara Yueyang di provinsi Hunan lebih dari sekadar struktur arsitektur megah yang menghadap ke Danau Dongting. Menara ini adalah monumen hidup bagi sebuah teks klasik yang telah berumur ribuan tahun, Memorial to Yueyang Tower (Peringatan Menara Yueyang).
Ditulis oleh cendekiawan sekaligus pejabat Dinasti Song, Fan Zhongyan, pada abad ke-11, esai ini adalah refleksi mendalam tentang seni tata kelola pemerintahan dan etika kepemimpinan. Teks ini merupakan kurikulum wajib bagi siswa sekolah menengah di Tiongkok, yang paling dikenal lewat kutipan ikonik: “Worry before the rest of the world worries, be joyous only after the rest of the world knows joy” (Khawatir sebelum dunia lain khawatir, bersuka cita hanya setelah dunia lain mengetahui sukacita).
Bagi pengunjung asing, intensitas penghayatan terhadap teks semacam itu di Tiongkok sering kali mengejutkan, bahkan jika sudah memperhitungkan reputasi sistem pendidikan negara tersebut yang sangat disiplin.
Sebuah pemandangan umum disaksikan di dalam kompleks menara: sekelompok besar siswa taman kanak-kanak dengan ceria, namun tanpa pemahaman penuh, melantunkan keseluruhan esai tersebut. Dipimpin oleh seorang guru yang bertindak layaknya konduktor orkestra, mereka dengan fasih menyuarakan ke-368 suku kata teks klasik tersebut.
Ketahanan Tradisi Hafalan
Pemandangan semacam itu bukanlah hal baru bagi mereka yang tumbuh di Tiongkok. Melalui berbagai pergolakan politik, ekonomi, dan transformasi teknologi selama beberapa dekade, tradisi kuno rote memorization (hafalan luar kepala) tetap bertahan kuat dalam sistem pendidikan Tiongkok.
Bahkan, panduan untuk gaokao—ujian masuk universitas yang diikuti oleh siswa berusia 18 tahun dan merupakan ujian standar terbesar di dunia—mendeskripsikan hafalan sebagai “kemampuan tingkat paling dasar”. Posisinya ditempatkan di atas lima kemampuan kognitif lainnya, termasuk pemahaman, analisis, sintesis, ekspresi, dan aplikasi.
Pada tingkat paling mendasar, sistem aksara Tiongkok itu sendiri, yang beroperasi pada tingkat suku kata dan melibatkan ribuan karakter dengan makna individual, menuntut latihan hafalan selama bertahun-tahun.
Namun, ada penekanan budaya yang lebih dalam. Setelah gelombang penolakan tradisi yang memuncak pada Revolusi Kebudayaan di bawah pimpinan Mao Zedong pada 1960-an dan 1970-an, terjadi rebound dalam sistem pendidikan yang kini sangat menekankan pada teks-teks kuno tertentu, terutama puisi klasik.
Bahkan, beberapa objek wisata di Tiongkok menawarkan tiket masuk gratis bagi pengunjung yang dapat menghafal dan melafalkan teks-teks klasik di tempat. Contohnya termasuk Analek Konfusius di provinsi Shandong—tempat kelahiran Konfusius—dan Menara Bangau Kuning di Wuhan, di mana anak-anak di bawah 15 tahun yang dapat membaca tiga puisi terkait menara tersebut ditawari tiket masuk gratis.
Kontras Barat dan Tekanan Lokal
Ketergantungan pada hafalan di Tiongkok menciptakan kontras yang tajam dengan dunia Barat, tempat rote memorization sering kali memiliki konotasi negatif. Lebih dari satu setengah abad yang lalu, di puncak Revolusi Industri Inggris, Charles Dickens dalam novelnya Hard Times telah menyindir pendekatan pendidik fiksi Gradgrind yang hanya mementingkan fakta semata.
Namun, bagi siswa di sistem pendidikan perkotaan Tiongkok yang kompetitif, terdapat insentif yang sangat jelas untuk mempelajari materi di luar kepala setuntas mungkin. Tekanan tinggi ini membuat ujian nasional dianggap sangat sakral. Jalan-jalan di sekitar lokasi ujian sering kali ditutup oleh polisi, dan sinyal seluler diblokir selama ujian berlangsung untuk mencegah kecurangan.
Pesan yang Melampaui Waktu
Kebutuhan untuk menguji hafalan dapat dipahami dalam konteks sistem politik yang hierarkis, di mana pengulangan pidato dan ide adalah hal lumrah. Namun, ada dimensi lain dari penekanan kolektif Tiongkok pada ingatan.
Menara Yueyang sendiri telah mengalami rekonstruksi berkali-kali sepanjang sejarah, bahkan sebelum Fan Zhongyan menulis esai tersebut pada abad ke-11. Versi menara saat ini dibangun kembali pada abad ke-19 selama Dinasti Qing, dan kemudian dibangun kembali lagi pada tahun 1983 setelah banyak situs sejarah, terutama kuil, dihancurkan selama Revolusi Kebudayaan.
Sebaliknya, ke-368 karakter dalam Memorial to Yueyang Tower tetap tidak berubah. Meskipun sulit untuk disampaikan tanpa pengulangan yang cukup, makna baris-baris tersebut berubah seiring waktu bagi setiap individu. Ketika seseorang melafalkannya lama setelah masa sekolah mereka berakhir, repetisi tersebut seolah menjadi jembatan yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu yang telah lewat.[]











