BREAKING

SAINS

Mungkinkah Fisikawan Menciptakan Lubang Hitam di Lab?

Menilik batas imajinasi manusia dalam menjinakkan fisika ekstrem: mungkinkah monster gravitasi atau lubang hitam diciptakan di dalam laboratorium?

SEANTERONEWS.com – Bagaimana jika monster pemakan kosmos paling menakutkan di jagat raya bisa dijinakkan dan dikurung di dalam ruang laboratorium? Pertanyaan ini terdengar seperti premis film fiksi ilmiah, namun bagi para fisikawan, gagasan melahirkan lubang hitam (black hole) buatan di Bumi adalah salah satu eksperimen impian untuk menyingkap tabir terdalam mekanika semesta.

Pada dasarnya, lubang hitam adalah wilayah ruang-waktu yang memiliki tarikan gravitasi sangat ekstrem akibat pemadatan massa yang luar biasa padat. Secara teoritis, objek apa pun di sekitar kita mulai dari sebutir pasir hingga sebuah planet bisa diubah menjadi lubang hitam asalkan kita mampu memampatkannya ke dalam ruang yang sangat sempit hingga gaya gravitasi internalnya mengalahkan gaya tolak-menolak antaratom yang menyusun materi.

Memeras Bumi Seukuran Ibu Jari

Sebagai gambaran ekstrem, jika kita ingin mengubah planet Bumi beserta seluruh gunung, samudra, dan isinya menjadi sebuah lubang hitam, kita harus memerasnya hingga menyusut menjadi seukuran ibu jari manusia. Kerapatan gila ini setara dengan satu miliar miliar miliar gram per sentimeter kubik.

Di laboratorium, tantangan menciptakan lubang hitam mikro serupa dengan memaksakan materi seberat satu ton (setara bobot mobil kecil) masuk ke dalam wadah sekecil mikrocip komputer terkecil saat ini. Kerapatan ekstrem semacam ini berada jauh di luar batas kemampuan rekayasa mekanis manusia. Elemen paling padat di Bumi, timbal, bahkan jutaan kali terlalu renggang untuk memulai keruntuhan gravitasi alami yang melahirkan lubang hitam.

Mengapa Akselerator Partikel Tidak Menciptakan “Kiamat Mini”?

Saat akselerator partikel raksasa bawah tanah seperti Large Hadron Collider (LHC) pertama kali diaktifkan, sempat muncul kecemasan publik bahwa tabrakan partikel berkecepatan tinggi di sana akan melahirkan lubang hitam mikro yang sanggup menelan Bumi.

Namun, kekhawatiran itu tidak terbukti secara ilmiah. Meskipun tabrakan partikel tersebut menghasilkan suhu dan kerapatan energi yang menyamai masa awal dentuman besar (Big Bang), energi kinetik yang dihasilkan tidak cukup terkonsentrasi untuk melipat ruang-waktu menjadi sebuah lubang hitam.

Celah Cahaya: Konsep “Kugelblitz”

Meskipun materi biasa menolak untuk dimampatkan melampaui batas atomnya, fisikawan memiliki skenario alternatif yang memanfaatkan karakteristik foton atau partikel cahaya. Berbeda dengan partikel bermassa yang saling tolak-menolak saat dipadatkan, foton tidak memiliki massa diam dan dapat ditumpuk tanpa batas dalam volume ruang yang sama.

Secara teoritis, jika kita bisa menembakkan triliunan foton berenergi raksasa menggunakan laser super kuat dan memfokuskannya pada satu titik mikroskopis, kerapatan energi murni tersebut dapat melipat ruang-waktu dan melahirkan lubang hitam yang murni terbuat dari cahaya. Konsep ini dikenal sebagai “Kugelblitz”.

Namun, memfokuskan energi cahaya sedahsyat itu ke area sekecil atom masih menjadi tantangan teknologi yang belum terpecahkan dan masih berada di batas tipis antara sains teoretis dan imajinasi ilmiah.

Paradoks Penguapan Instan

Apa yang terjadi jika para ilmuwan esok hari benar-benar berhasil menciptakan sebuah lubang hitam mikro di laboratorium? Banyak yang mengira Bumi akan langsung terancam, namun fisika kuantum berkata sebaliknya.

Merujuk pada teori legendaris Stephen Hawking mengenai Radiasi Hawking, lubang hitam secara perlahan akan kehilangan massanya dan menguap. Hukum termodinamika lubang hitam mendikte bahwa semakin kecil ukurannya, semakin cepat pula ia memancarkan energinya ke ruang hampa.

Sebuah lubang hitam mikro yang lahir di laboratorium hanya akan bertahan selama sepersekian detik sebelum akhirnya menguap habis dalam kilatan cahaya energi tinggi yang seketika lenyap tanpa membahayakan lingkungan sekitar.

Pada akhirnya, impian menangkap monster gravitasi di Bumi mungkin masih jauh dari jangkauan teknologi kita saat ini, namun perdebatan teoretis mengenainya terus memaksa manusia memperluas batas pemahaman mereka tentang cara kerja kosmos.

 

Sumber: theconversation.com

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts