BANDA ACEH — Pertanyaan tentang kemampuan tubuh menyembuhkan dirinya guna memperbaiki kerusakan biologis tidak serta-merta berarti pengobatan medis menjadi tidak diperlukan. Bukti ilmiah justru menunjukkan bahwa proses pemulihan merupakan rangkaian mekanisme yang kompleks dan dapat gagal ketika kerusakan, infeksi, gangguan metabolik atau respons imun tidak terkendali.
Penjelasan mengenai proses tersebut telah lama menjadi bagian dari riset biomedis. Carl Nathan dalam ulasannya di jurnal Nature yang terbit 19 Desember 2002 menjelaskan bahwa inflamasi merupakan rangkaian interaksi sel dan molekul yang muncul sebagai respons terhadap cedera, infeksi, maupun gangguan lain. Dalam kondisi normal, proses itu dapat berkontribusi pada pemulihan dan penyembuhan, tetapi inflamasi yang tidak terkendali justru dapat memperpanjang kerusakan jaringan.
Temuan itu mempertegas satu hal penting: inflamasi bukan sekadar musuh tubuh. Respons tersebut merupakan bagian dari sistem pertahanan dan perbaikan. Ruslan Medzhitov melalui kajiannya di Nature, yang diterbitkan 1 Juli 2008, menjelaskan bahwa inflamasi mempunyai fungsi fisiologis sekaligus dapat menjadi patologis apabila berlangsung tidak semestinya.
Mekanisme pemulihan bahkan dapat terlihat dari proses penyembuhan luka. National Institutes of Health (NIH) menjelaskan dalam publikasi Oktober 2023 bahwa tubuh normalnya menjalankan serangkaian tahap ketika jaringan mengalami luka. Pembekuan darah terjadi lebih dahulu, kemudian sel imun datang untuk membersihkan jaringan yang rusak sekaligus melawan mikroorganisme. Setelah itu tubuh membentuk jaringan baru dan memasuki tahap pematangan atau remodeling.
Dengan kata lain, istilah self-healing memiliki dasar biologis, tetapi bukan berarti tubuh selalu mampu menyelesaikan seluruh persoalan kesehatan tanpa intervensi. NIH juga mencatat bahwa proses penyembuhan dapat terganggu, antara lain karena diabetes, gangguan aliran darah, merokok, obesitas, usia, maupun gangguan inflamasi. Luka yang tidak sembuh dalam waktu lama bahkan dapat berubah menjadi masalah kronis dan meningkatkan risiko komplikasi.
Sistem imun bukan tombol yang cukup “dinyalakan”
Video tersebut juga menempatkan sistem imun sebagai salah satu kunci pemulihan tubuh. Secara ilmiah, gagasan itu memiliki pijakan kuat. Literatur kedokteran menunjukkan sistem imun terlibat dalam membersihkan jaringan rusak, mengendalikan mikroorganisme, mengatur inflamasi dan membantu proses regenerasi.
National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine dalam laporan yang diterbitkan 21 April 2022 menyebut sistem imun bawaan dan adaptif sebagai komponen penting dalam respons tubuh terhadap kerusakan jaringan. Sel-sel imun membantu membersihkan debris, mengatur lingkungan jaringan, serta berinteraksi dengan sel yang berperan dalam regenerasi.
Tetapi, meningkatkan aktivitas imun secara sembarangan bukanlah solusi universal. Respons imun yang terlalu lemah dapat menghambat pertahanan dan penyembuhan, sedangkan respons yang berlebihan atau berkepanjangan juga dapat merusak jaringan. Kajian tentang penyembuhan luka menunjukkan bahwa keseimbangan antara fase inflamasi dan fase perbaikan sangat menentukan keberhasilan pemulihan.
Autophagy bekerja di tingkat sel
Materi video juga menyinggung mekanisme autophagy, yakni proses ketika sel melakukan degradasi dan daur ulang komponen internalnya. Mekanisme ini bukan sekadar istilah populer dalam konten kesehatan, melainkan telah lama diteliti dalam biologi sel.
Noboru Mizushima dan kolega melalui ulasan di Nature yang terbit 28 Februari 2008 menjelaskan bahwa autophagy berkaitan dengan degradasi protein dan organel serta memiliki hubungan dengan berbagai kondisi fisiologis dan penyakit. Peneliti juga menekankan bahwa mekanisme tersebut memiliki fungsi protektif dalam konteks tertentu, tetapi tidak dapat disederhanakan sebagai proses yang otomatis “menyembuhkan” semua penyakit.
Penelitian mengenai puasa dan metabolisme juga menunjukkan adanya hubungan antara kondisi kekurangan asupan energi, perubahan metabolisme dan berbagai mekanisme seluler. Namun, ulasan Valter D. Longo dan Mark P. Mattson di Cell Metabolism, diterbitkan 4 Februari 2014, membahas potensi mekanisme tersebut sekaligus menempatkannya dalam konteks bukti ilmiah dan aplikasi klinis—bukan sebagai resep universal untuk menyembuhkan penyakit.
Lalu, apakah obat hanya menekan gejala?
Pertanyaan tersebut perlu dijawab secara hati-hati. Tidak semua obat bekerja dengan mekanisme yang sama dan tidak semua terapi hanya bertujuan menghilangkan gejala.
Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, dalam artikel 29 Juli 2022, menjelaskan bahwa terapi dapat mencakup obat yang menargetkan proses penyakit sekaligus obat yang digunakan untuk mengendalikan gejala. Dalam konteks tertentu, keduanya dapat diberikan sesuai kondisi pasien dan hasil penilaian klinis.
Karena itu, menyamakan seluruh obat dengan “pemblokir sinyal tubuh” merupakan penyederhanaan. Obat dapat bekerja melalui berbagai sasaran biologis, termasuk reseptor, enzim, kanal ion, transporter, mikroorganisme penyebab penyakit maupun jalur molekuler tertentu. Dalam banyak kondisi, mengendalikan gejala justru merupakan bagian penting dari perawatan pasien.
Yang menjadi persoalan bukan keberadaan obatnya, melainkan penggunaan obat secara tidak rasional. Penggunaan obat yang tepat harus mempertimbangkan diagnosis, manfaat, risiko, dosis, interaksi, kondisi pasien dan tujuan terapi.
BPOM ingatkan bahaya klaim “sembuh cepat
Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga berulang kali mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada klaim kesehatan yang berlebihan.
Dalam publikasi 5 Mei 2026, Direktorat Intelijen Obat dan Makanan BPOM menegaskan bahwa suplemen kesehatan bukan obat penyembuh. Suplemen ditujukan untuk melengkapi kebutuhan tertentu dan mendukung fungsi kesehatan, bukan menggantikan terapi medis atau menjadi solusi instan terhadap penyakit.
BPOM juga menyatakan bahwa promosi obat tradisional dan suplemen tidak boleh menjanjikan efek instan atau memberikan kesan bahwa produk tersebut pasti menyembuhkan penyakit. Ketentuan tersebut tercantum dalam panduan pengawasan iklan BPOM.
Peringatan serupa bukan hal baru. Pada 5 Mei 2020, BPOM menyatakan bahwa klaim khasiat suatu produk herbal harus didukung bukti empiris atau ilmiah, termasuk melalui uji praklinik dan klinik sesuai jenis klaimnya. Badan tersebut juga menegaskan tidak ada persetujuan untuk klaim bahwa suatu produk herbal dapat mengobati segala jenis penyakit.
Fakta tersebut menjadi garis pembatas penting dalam membaca konten mengenai self-healing. Tubuh memang memiliki sistem pertahanan dan perbaikan yang luar biasa. Namun, kemampuan tersebut bukan jaminan bahwa setiap penyakit akan sembuh dengan sendirinya.
Pesan terpentingnya bukan memilih antara tubuh atau obat. Keduanya berada dalam konteks yang berbeda: tubuh memiliki mekanisme pemulihan, sementara pengobatan digunakan ketika mekanisme tersebut membutuhkan bantuan, ketika penyebab penyakit harus ditangani, atau ketika gejala perlu dikendalikan agar risiko komplikasi dapat ditekan.
Karena itu, klaim bahwa seseorang cukup “mengaktifkan sistem imun” untuk mengatasi penyakit perlu diuji dengan bukti, bukan sekadar dipercaya karena terdengar ilmiah. Dalam urusan kesehatan, narasi yang menarik tetap harus tunduk pada diagnosis, penelitian dan bukti klinis.(*)











