BREAKING

INTERNASIONAL

Minyak Dunia Turun, Mengapa Harga Bensin di AS Tetap Mahal?

Harga minyak WTI turun ke level 69 Dolar AS, namun harga bensin di Amerika Serikat lambat turun hingga memicu kemarahan publik dan Donald Trump.

SEANTERONEWS.com – Pelonggaran ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran melalui kesepakatan nota kesepahaman (MoU) mulai membawa dampak positif bagi penurunan harga minyak mentah dunia ke level sebelum konflik. Namun, kondisi ini berbanding terbalik dengan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin di tingkat ritel AS yang dilaporkan masih bertahan tinggi. Kondisi tersebut memicu kekecewaan publik serta memantik kritik keras dari Presiden Donald Trump.

Harga minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), dilaporkan meluncur turun ke kisaran 69 Dolar AS per barel pada akhir perdagangan pekan lalu, mendekati level sebelum pecah konflik di angka 67 Dolar AS. Kendati demikian, rata-rata harga bensin nasional di AS masih tertahan di posisi 3,90 Dolar AS per galon berdasarkan data American Automobile Association (AAA).

Angka ini mencatatkan kenaikan hampir satu dolar jika dibandingkan dengan posisi akhir Februari lalu, meskipun sudah berangsur turun dari puncaknya yang sempat menyentuh 4,50 Dolar AS per galon akibat blokade jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.

Tudingan Price Gouging oleh Donald Trump

Fenomena lambatnya penyesuaian harga bensin di tingkat konsumen ini memicu reaksi keras dari Donald Trump. Melalui platform media sosial Truth Social, Trump menuding korporasi minyak raksasa sengaja melakukan praktik manipulasi atau “penggelembungan harga” (price gouging) untuk memaksimalkan margin keuntungan. Ia bahkan mendesak Departemen Kehakiman AS (Department of Justice) untuk segera melakukan penyelidikan formal terhadap perilaku pasar industri minyak.

Namun, tudingan keras presiden tersebut disanggah oleh kalangan analis industri energi. Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai kemarahan publik dan kritik presiden salah sasaran.

Lipow menjelaskan bahwa korporasi minyak multinasional sebenarnya menguasai kurang dari lima persen dari total jaringan stasiun pengisian bahan bakar di AS. Sebagian besar SPBU dimiliki dan dioperasikan secara independen oleh pengusaha lokal yang cenderung lambat menyesuaikan harga jual eceran demi memulihkan keuntungan mereka setelah tertekan selama masa konflik.

Fenomena Ekonomi “Roket dan Bulu”

Rob Smith, Direktur Ritel Bahan Bakar Global di S&P Global Energy, menganalogikan situasi ini dengan istilah klasik dalam ekonomi ritel energi.

“Ada fenomena di mana harga bensin ritel naik secepat roket saat harga minyak dunia melonjak, namun turun selambat bulu (rocket and feather effect) ketika harga minyak mentah melandai. Para pemilik SPBU lokal yang sebelumnya menderita tekanan margin keuntungan kini memanfaatkan momentum pemulihan harga untuk menyehatkan kembali keuangan mereka,” jelas Smith.

Di sisi lain, Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, menyoroti kendala persediaan fisik. Ia menjelaskan bahwa rendahnya cadangan bensin global di tengah memasuki musim puncak perjalanan (travel season) membuat harga bensin ritel sulit turun dengan cepat, sekalipun harga minyak mentah di hulu sudah melandai.

Asosiasi Industri Minyak Amerika (American Petroleum Institute/API) melalui juru bicaranya, Bethany Williams, serta Chief Financial Officer (CFO) Chevron, Eimear Bonner, juga sepakat bahwa terdapat jeda waktu (time lag) yang cukup signifikan sebelum penurunan harga minyak mentah di hulu dapat ditransmisikan sepenuhnya ke pompa bensin konsumen.

Beban Finansial Masyarakat Menengah ke Bawah

Tingginya harga bensin di tingkat pompa bensin kini menjadi beban riil bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah di AS.

Direktur Eksekutif National Energy Assistance Directors Association, Mark Wolfe, memaparkan bahwa tambahan biaya energi rata-rata sebesar 100 Dolar AS per bulan sangat memberatkan keluarga yang hidup dari gaji ke gaji. Tekanan biaya ini memaksa mereka memangkas anggaran untuk kebutuhan pokok lainnya atau beralih menambah beban utang pada kartu kredit demi menutupi biaya harian.

Meskipun kesepakatan MoU antara AS dan Iran menjamin kelancaran arus logistik di Selat Hormuz, situasi di jalur perdagangan energi dunia tersebut dinilai masih rapuh. Fluktuasi ini diproyeksikan akan terus membayangi kecepatan normalisasi harga BBM di tingkat ritel domestik AS dalam beberapa pekan ke depan.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts