BREAKING

INTERNASIONAL

Krisis Iklim Global: WHO Rilis Peringatan Serius Terkait Sebaran Suhu Ekstrem di Eropa

WHO mengeluarkan peringatan serius mengenai gelombang panas ekstrem di Eropa yang memicu ribuan korban jiwa dan mengancam 150 juta orang.

SEANTERONEWS.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengeluarkan peringatan darurat menyusul gelombang panas ekstrem yang masih terus mengepung sebagian besar wilayah Eropa. Pergerakan massa udara panas yang semula terkonsentrasi di bagian barat kini dilaporkan mulai bergeser ke arah Eropa Tengah dan Timur, meningkatkan risiko kesehatan bagi ratusan juta warga serta memicu kenaikan angka kematian secara signifikan.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memaparkan bahwa saat ini diperkirakan ada sekitar 150 milion penduduk yang terpaksa bertahan di bawah suhu udara yang sangat ekstrem. Dampak yang ditimbulkan tidak lagi terbatas pada gangguan kesehatan masyarakat, melainkan telah melumpuhkan aktivitas belajar mengajar di sekolah, mengganggu keandalan pasokan listrik, hingga menghambat jalannya berbagai fasilitas pelayanan publik.

“Sebanyak 150 juta orang kini hidup di bawah ancaman suhu panas ekstrem. Ratusan korban jiwa telah dilaporkan, sejumlah sekolah terpaksa ditutup sementara, dan infrastruktur jaringan listrik mulai mengalami kelebihan beban,” tulis Tedros dalam pernyataan resminya di media sosial X.

Ia juga menambahkan fakta bahwa kawasan Eropa saat ini tercatat sebagai benua dengan laju kenaikan suhu tercepat di dunia, di mana tingkat pemanasannya mencapai dua kali lipat dibandingkan angka rata-rata global.

Laporan meteorologi terbaru mengonfirmasi bahwa sebaran suhu tinggi terus meluas ke arah timur. Negara-negara seperti Republik Ceko, Polandia, dan Hungaria telah mencatatkan rekor suhu tertinggi dalam sejarah nasional mereka selama sepekan terakhir.

Berdasarkan data kompilasi yang dirilis oleh AFP, sekitar 191 juta warga Eropa diproyeksikan akan terpapar suhu udara yang melebihi ambang batas 35 derajat Celsius. Paparan suhu setinggi ini masuk dalam kategori bahaya tinggi, terutama bagi kelompok rentan seperti warga lanjut usia (lansia), anak-anak balita, serta individu yang memiliki riwayat penyakit kronis.

Sejak gelombang panas ini mulai memuncak pada 21 Juni 2026, WHO mencatat setidaknya 1.300 orang telah meninggal dunia akibat dampak paparan panas berlebih, baik secara langsung maupun melalui komplikasi medis sekunder. Selain wilayah Eropa Tengah, beberapa negara seperti Swiss, Jerman, dan Inggris juga terus mencatatkan anomali cuaca berupa suhu harian yang melonjak jauh di atas rata-rata musim panas biasanya.

Para ahli klimatologi menegaskan bahwa frekuensi dan intensitas gelombang panas yang semakin sering terjadi merupakan konsekuensi riil dari pemanasan global. Para ilmuwan memperingatkan bahwa fenomena cuaca ekstrem seperti ini akan terus berulang secara berkala apabila negara-negara industri tidak segera mengambil langkah konkret untuk memangkas emisi gas rumah kaca secara drastis.

Menyikapi situasi kritis ini, WHO mengimbau pemerintah di seluruh kawasan Eropa untuk segera memperkuat sistem mitigasi bencana cuaca ekstrem. Langkah darurat yang direkomendasikan mencakup penyediaan ruang-ruang perlindungan berpendingin bagi publik, pengetatan pengawasan terhadap kelompok rentan, serta memastikan kesiapan fasilitas layanan kesehatan darurat dalam mengantisipasi lonjakan pasien akibat sengatan panas (heatstroke).[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts