BREAKING

ENTERTAINMENT

Dua Karya Teater RI Pukau Biennale Venezia 2026

Indonesia hadirkan Under the Volcano dan Hikayat Perahu di Festival Teater Biennale Venezia 2026. Unjuk kearifan lokal di panggung teater modern dunia.

SEANTERONEWS.com – Di tengah gempuran tren seni panggung eksperimental berbasis teknologi digital, Indonesia mengambil langkah berbeda nan memikat. Membawa ruh kearifan lokal, memori kolektif, dan tradisi lisan, dua mahakarya teater Nusantara dipastikan tampil memukau di ajang bergengsi Festival Teater Internasional ke-54, La Biennale di Venezia 2026, Italia.

Dua pertunjukan tersebut, yakni Under the Volcano dan Hikayat Perahu (The Tale of Boat), merupakan hasil produksi Bumi Purnati Indonesia. Keduanya dijadwalkan mentas pada 16 hingga 19 Juni 2026 di Teatro alle Tese, kawasan bersejarah Arsenale, Venesia.

Keberhasilan menembus panggung utama ini bukanlah hal instan. Di bawah arahan direktur festival sekaligus aktor legendaris Hollywood, Willem Dafoe, komite menyeleksi ketat sekitar 610 proposal dari seluruh penjuru dunia. Mengusung tema “Alter-Native”, festival tahun ini berfokus pada eksplorasi identitas, akar budaya, dan dinamika perubahan sosial—elemen yang sangat kental dalam representasi delegasi Indonesia.

Mengubah Tragedi Alam Menjadi Simbol Solidaritas

Pertunjukan pertama, Under the Volcano, dikomandoi oleh sutradara Yusril Katil yang berkolaborasi dengan Komunitas Seni Hitam-Putih asal Padang Panjang, Sumatera Barat.

Pementasan ini mengangkat napas Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh, sebuah catatan historis tentang dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada 1883. Namun, alih-alih sekadar merekonstruksi bencana, lakon ini menghidupkan elemen gunung sebagai entitas yang menyalurkan trauma sekaligus pewarisan ingatan antar-generasi.

“Karya ini merupakan sebuah manifestasi perjalanan pulang menuju akar memori dan tanah kelahiran,” ungkap Yusril, merefleksikan kehidupannya di Sumatera Barat yang sarat akan dinamika vulkanik dan gempa tektonik.

Dalam eksekusinya, Under the Volcano memadukan gerakan tari kontemporer dengan ketegasan silat Minangkabau. Menariknya, panggung didominasi oleh properti sederhana berupa delapan buah tangga kayu.

Menurut Restu Imansari Kusumaningrum selaku Direktur Artistik, tangga tersebut melambangkan kekuatan solidaritas komunal saat malapetaka melanda. Sementara itu, Dramaturg Rhoda Grauer menilai kesederhanaan properti inilah yang menjadi kekuatan magis, di mana tangga dapat berubah fungsi secara visual menjadi lereng gunung, atap rumah, hingga peti mati, yang sukses mengajak penonton meresapi makna bertahan hidup.

Sebagai catatan, kualitas mahakarya ini telah teruji di kancah global, termasuk partisipasinya dalam Theatre Olympics di Beijing (2014) dan Singapura (2016).

Manifestasi Spiritual dalam Bingkai Tradisi Lisan

Berbeda dengan tema bencana, Hikayat Perahu membawa audiens menyusuri kontemplasi spiritual. Sang sutradara, Sri Qadariatin, mengadaptasi karya sastra ulama sufi abad ke-16, Hamzah Fansuri, berjudul Syair Perahu. Istimewanya, naskah klasik ini baru saja dinobatkan sebagai Memory of the World oleh UNESCO pada tahun 2025.

Lakon ini menganalogikan raga manusia bak bahtera yang sedang berlayar menuju keabadian. Alih-alih menyajikannya secara kaku, Sri meramu atmosfer panggung yang mengalir dinamis. Ia menghindari struktur narasi linear dan lebih memilih pendekatan emosional melalui jeda, tonalitas, serta resonansi tradisi lisan Aceh—seperti pantun, dendang, dan lantunan ayat suci.

Kekayaan Nusantara semakin ditonjolkan melalui fusi elemen kultural. Restu Imansari Kusumaningrum memaparkan bahwa Hikayat Perahu secara ciamik meleburkan koreografi dan vokal dari ragam tradisi lokal mulai dari Aceh, Minangkabau, Melayu, hingga Jawa Timur, yang dibingkai dalam format teatrikal masa kini.

Kehadiran Indonesia di La Biennale di Venezia 2026 menegaskan sebuah pesan kuat: inovasi seni tak melulu soal kecanggihan futuristis. Lewat syair kuno yang menolak mati dan realitas hidup berdampingan dengan cincin api, teater Indonesia membuktikan bahwa identitas lokal memiliki daya pikat dan relevansi yang abadi di mata dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts