Sebuah temuan baru dalam dunia keamanan siber mengungkap keberadaan spyware (perangkat lunak pengintai) bernama Morpheus. Temuan yang dipublikasikan oleh organisasi hak digital asal Italia, Osservatorio Nessuno, menunjukkan bagaimana perangkat lunak ini menyamar sebagai aplikasi pembaruan sistem di perangkat Android untuk mencuri data pribadi target.
Berdasarkan laporan tersebut, Morpheus diduga dikembangkan oleh IPS, sebuah perusahaan teknologi asal Italia yang telah berpengalaman selama lebih dari 30 tahun dalam menyediakan solusi intersepsi hukum tradisional bagi aparat penegak hukum dan intelijen.
Cara Kerja yang Menipu
Berbeda dengan spyware canggih seperti Pegasus dari NSO Group yang menggunakan teknik “zero-click” (menginfeksi tanpa interaksi pengguna), Morpheus dikategorikan sebagai spyware berbiaya rendah. Malware ini mengandalkan taktik manipulasi agar target menginstalnya sendiri.
Teknik yang digunakan cukup sistematis dan melibatkan kolaborasi pihak ketiga:
Pemblokiran Data: Awalnya, penyedia layanan seluler target secara sengaja memblokir akses data seluler.
Pancingan SMS: Setelah akses terputus, korban menerima SMS berisi instruksi untuk menginstal aplikasi pembaruan agar dapat kembali mengakses internet.
Penyalahgunaan Izin: Begitu terinstal, aplikasi palsu ini menyalahgunakan fitur aksesibilitas Android untuk membaca layar, berinteraksi dengan aplikasi lain, dan mengambil data sensitif.
Pembajakan Akun: Spyware ini juga mampu meniru aplikasi WhatsApp dan meminta korban memberikan otorisasi biometrik. Tanpa disadari, korban justru memberikan akses penuh kepada peretas untuk menyinkronkan akun WhatsApp mereka ke perangkat lain.
Kaitan dengan Industri Pengintai Italia
Para peneliti dari Osservatorio Nessuno, Davide dan Giulio, menyimpulkan keterlibatan IPS melalui analisis infrastruktur server yang digunakan dalam kampanye serangan ini. Selain itu, ditemukan fragmen kode dalam bahasa Italia yang merujuk pada budaya populer setempat, sebuah pola yang menurut peneliti sering ditemukan pada spyware buatan produsen teknologi pengintai asal Italia.
Kasus ini menambah panjang daftar produsen spyware Italia yang bermunculan setelah runtuhnya Hacking Team, perusahaan perintis teknologi pengintai global. Sejumlah perusahaan serupa seperti CY4GATE, SIO, dan Negg juga kerap disorot dalam berbagai laporan keamanan siber global.
Ancaman bagi Privasi
Meskipun detail spesifik mengenai target tidak diungkapkan, para peneliti meyakini bahwa serangan ini ditujukan kepada aktivis politik. Kasus ini kembali menyoroti tingginya permintaan pemerintah terhadap teknologi pengintai yang mampu menembus privasi individu.
Kehadiran Morpheus menjadi pengingat bagi pengguna perangkat seluler, khususnya Android, untuk selalu berhati-hati saat menerima pesan yang meminta instalasi aplikasi di luar toko resmi, terutama jika disertai dengan kendala teknis yang mencurigakan seperti pemblokiran koneksi internet secara tiba-tiba.[]










