JAKARTA – Bagi pendukung setia Persija Jakarta, nama Stadion Lebak Bulus bukan sekadar bangunan tua yang telah dibongkar. Stadion ini adalah lembaran sejarah, rumah bagi para Macan Kemayoran, dan saksi bisu kejayaan sepak bola ibu kota di masa lalu. Kini, di lokasi yang sama, deretan gerbong MRT telah menggantikan gemuruh tribun, namun kenangan akan stadion ini tak pernah benar-benar hilang.
Ikon “Angker” di Jakarta Selatan
Diresmikan pada tahun 1987, Stadion Lebak Bulus memiliki kapasitas sekitar 12.500 penonton. Meskipun tak sebesar Stadion Utama Gelora Bung Karno, stadion ini memiliki keunikan yang membuatnya disegani lawan: ketiadaan lintasan atletik.
Ketiadaan lintasan tersebut membuat tribun penonton berada sangat dekat dengan lapangan hijau. Bagi tim tamu, kedekatan jarak ini menciptakan atmosfer yang menekan dan terkesan “angker”. Stadion ini juga sempat diakui sebagai fasilitas olahraga bertaraf internasional, bahkan pernah menjadi tuan rumah Kualifikasi Piala Asia U-16 pada tahun 2008.
Rumah bagi Sang Macan Kemayoran
Persija Jakarta menjadikan Stadion Lebak Bulus sebagai kandang utama sejak akhir 1990-an hingga 2007. Di sinilah para legenda klub seperti Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan, dan Aliyudin menorehkan tinta emas dalam perjalanan karier mereka di kompetisi Liga Indonesia.
Selain Persija, beberapa klub besar lain juga pernah menjadikan Lebak Bulus sebagai rumah, di antaranya Pelita Jaya sebelum akhirnya bertransformasi menjadi Pelita Solo serta Persitara Jakarta Utara. Stadion ini benar-benar menjadi pusat aktivitas sepak bola yang hidup di Jakarta Selatan pada masanya.
Perpisahan dan Transformasi
Kisah kebersamaan Persija dengan Stadion Lebak Bulus harus berakhir pada akhir tahun 2007. Keterbatasan kapasitas stadion yang tidak lagi mampu menampung animo suporter yang membludak menjadi alasan utama.
Tahun-tahun berikutnya membawa angin perubahan yang signifikan bagi kawasan Lebak Bulus. Wacana pembangunan moda transportasi massal modern akhirnya membawa konsekuensi bagi stadion tersebut. Pada tahun 2015, rencana pembongkaran stadion untuk kepentingan pembangunan Depo MRT Jakarta mulai direalisasikan.
Warisan yang Tak Hilang
Kini, Stadion Lebak Bulus telah berubah wajah menjadi Depo MRT yang beroperasi penuh, menjadi tulang punggung mobilitas warga Jakarta. Meskipun struktur bangunannya telah rata dengan tanah, memori tentang “tekanan” di tribun Lebak Bulus, gol-gol ikonik, dan fanatisme suporter tetap hidup dalam narasi sejarah sepak bola nasional.
Bagi masyarakat Jakarta, Lebak Bulus kini mungkin menjadi titik awal perjalanan transportasi modern. Namun bagi para pecinta sepak bola, lokasi ini akan selalu dikenang sebagai tempat di mana jantung sepak bola Jakarta pernah berdenyut kencang.[]










