BREAKING

INTERNASIONAL

Aksi ‘No Kings’: Jutaan Rakyat AS Protes Rezim Trump

Jutaan warga AS dan dunia gelar aksi "No Kings" di 3.000 lokasi. Protes kebijakan imigrasi, perang Iran, dan ekonomi di bawah rezim Trump.

Gelombang protes besar-besaran bertajuk “No Kings” melanda Amerika Serikat dan belasan negara lainnya pada Sabtu (28/3/2026). Koalisi penyelenggara yang terdiri dari kelompok akar rumput, serikat buruh, dan organisasi anti-otoriter seperti Indivisible dan 50501, mengklaim aksi ini sebagai salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah AS, dengan lebih dari 3.000 titik acara di seluruh penjuru negeri.

Di pusat aksi utama (flagship) yang berlangsung di Twin Cities (Minneapolis dan St. Paul), sekitar 200.000 orang memadati area sekitar gedung kapitol negara bagian Minnesota. Suasana haru dan amarah menyatu saat massa mengenang Renee Good dan Alex Pretti, warga lokal yang tewas di tangan agen federal awal tahun ini.

Suara dari Tokoh Dunia dan Selebritas

Aksi di Minneapolis dihadiri oleh Senator Independen Bernie Sanders yang mengecam dominasi kaum ultra-kaya dalam politik Amerika. Musisi legendaris Bruce Springsteen turut hadir membawakan lagu “Streets of Minneapolis” yang didedikasikan untuk para korban kekerasan agen imigrasi (ICE).

Gubernur Minnesota, Tim Walz, memberikan pernyataan pedas saat memperkenalkan Springsteen. “Amerika tidak butuh raja (kings), Amerika butuh sang Boss (Springsteen),” tegasnya, mengacu pada tuntutan agar kepemimpinan Trump tidak bertindak seolah-olah di atas hukum.

Sementara itu, di New York City, tokoh-pohon besar seperti aktor Robert De Niro, aktivis Al Sharpton, hingga Jaksa Agung Letitia James memimpin barisan dengan spanduk bertuliskan: “We protect our democracy people over billionaires.”

Gerakan Meluas Hingga Wilayah Republik

Menariknya, aksi “No Kings” kali ini tidak hanya didominasi oleh kota-kota besar yang beraliran liberal. Leah Greenberg, salah satu pendiri Indivisible, mengungkapkan bahwa dua pertiga peserta berasal dari luar pusat kota besar, termasuk wilayah yang dikuasai Partai Republik seperti Lebanon (Pennsylvania), Midland (Texas), dan Boise (Idaho).

Para pengunjuk rasa menyuarakan kegelisahan atas berbagai isu sistemik, antara lain:

Krisis Ekonomi: Kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok yang mencekik rakyat.

Isu Kemanusiaan: Penangkapan massal oleh ICE dan perlindungan bagi komunitas trans.

Geopolitik: Protes terhadap keterlibatan AS dalam perang di Iran yang dianggap ilegal.

Respon Keras Gedung Putih

Pemerintah Trump merespons sinis aksi tersebut dengan melabelinya sebagai “Trump Derangement Therapy Sessions” (Sesi Terapi Gangguan Trump). Juru bicara Gedung Putih, Abigail Jackson, menyebut demonstrasi ini hanya rekayasa jaringan pendanaan sayap kiri.

Meskipun koalisi “No Kings” menekankan aksi damai dan melarang penggunaan senjata, ketegangan sempat terjadi di West Palm Beach, Florida, ketika sekitar 50 pengunjuk rasa tandingan dari kelompok “Proud Boys” mencoba memprovokasi massa.

Katalis Perlawanan Berkelanjutan

Bagi para organisator, tanggal 28 Maret bukanlah akhir dari gerakan. Mereka melihat aksi ini sebagai katalis untuk pengorganisasian lokal yang lebih kuat di masa depan.

“Trump mungkin masih di Gedung Putih setelah hari Sabtu ini, tetapi gerakan kami jauh lebih besar dan tekad kami jauh lebih kuat,” ujar Walikota Chicago, Brandon Johnson, di hadapan ribuan demonstran di Grant Park.

Aksi ini menandai titik balik penting dalam perlawanan sipil terhadap kebijakan administrasi Trump, sekaligus menjadi pengingat bahwa suara rakyat di wilayah pedesaan hingga perkotaan mulai menyatu dalam satu narasi: perlindungan demokrasi di atas kepentingan elit.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts