Khazanah biodiversitas Indonesia kembali diperkaya dengan penemuan spesies baru bunga parasit raksasa dari pedalaman hutan Kalimantan Timur. Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Bengkulu resmi mengidentifikasi spesies baru yang diberi nama Rafflesia harjatii. Temuan ini telah dipublikasikan secara ilmiah dalam jurnal Sains Malaysiana pada awal tahun 2026.
Meski keberadaannya sudah terendus sejak dekade 1980-an di kawasan PT ITCI Kartika Utama, identitas taksonomi bunga ini baru bisa dipastikan setelah melalui serangkaian uji laboratorium yang panjang.
Perjalanan Panjang Menuju Pengakuan Spesies
Penelitian intensif dimulai pada tahun 2022 di bawah pimpinan Agus Susatya dari Universitas Bengkulu, berkolaborasi dengan ahli botani BRIN seperti Ridha Mahyuni dan Sudarmono. Penentuan status sebagai spesies baru tidak dilakukan secara gegabah.
“Penentuan spesies baru tidak bisa hanya berdasarkan temuan lapangan, tetapi harus melalui pembuktian morfologi dan analisis genetik yang ketat,” ujar Agus Susatya. Hasil analisis DNA akhirnya mengonfirmasi bahwa bunga ini adalah entitas genetik yang berbeda, bukan sekadar variasi dari spesies yang sudah dikenal sebelumnya.
Karakteristik Unik: Kecil namun Berbeda
Rafflesia harjatii memiliki karakteristik morfologi yang sangat spesifik yang membedakannya dari jenis Rafflesia lain di daratan Kalimantan. Beberapa ciri khasnya antara lain:
Dimensi: Diameter bunga berkisar antara 17 hingga 22 sentimeter, tumbuh di dataran rendah pada ketinggian sekitar 325 mdpl.
Corak Mahkota: Memiliki bercak putih yang cenderung lebih besar namun sebarannya lebih jarang.
Struktur Dalam: Diafragma bunga lebih tebal dengan bukaan yang sempit, dilengkapi struktur ramenta (bulu halus) berbentuk silindris menyerupai gada kecil.
Tonjolan Cakram: Bagian dalam cakram menunjukkan tonjolan unik yang menjadi kunci pembeda utama secara visual.
Status Endemik dan Upaya Konservasi
Berdasarkan penilaian awal, bunga ini berstatus endemik Kalimantan Timur karena populasinya hingga saat ini hanya tercatat di wilayah tersebut. Peneliti mencatat adanya tiga sub-populasi di lokasi penemuan.
Ridha Mahyuni menjelaskan bahwa posisi bunga ini relatif aman dari gangguan manusia karena berada di dalam area konservasi perusahaan yang terjaga. Namun, faktor alam tetap menjadi tantangan. “Walaupun terlindungi dari aktivitas manusia, ancaman alami seperti curah hujan ekstrem yang dapat merusak inang Tetrastigma perlu tetap diwaspadai,” ungkapnya.
Temuan ini mendapat apresiasi tinggi dari Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL). Penemuan Rafflesia harjatii diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat perlindungan habitat asli di Kalimantan Timur.
BRIN juga memberikan sinyal positif bahwa penemuan ini hanyalah awal. Saat ini, tim peneliti tengah memfinalisasi data untuk beberapa kandidat spesies Rafflesia baru lainnya yang rencananya akan diumumkan dalam waktu dekat pada tahun ini.[]










