BREAKING

TEKNOLOGI

Spyware Predator Serang Jurnalis Angola Lewat iPhone

Waspada! Spyware Predator buatan Intellexa ditemukan meretas iPhone jurnalis di Angola. Simak cara kerja serangan canggih ini dan dampaknya.

BANDA ACEH – Sebuah laporan investigasi keamanan siber terbaru mengungkapkan bahwa spyware Predator, yang dikembangkan oleh perusahaan Intellexa, telah digunakan untuk meretas iPhone milik seorang jurnalis terkemuka di Angola. Temuan ini kembali memicu kekhawatiran global mengenai penyalahgunaan alat spionase tingkat tinggi untuk membungkam kebebasan pers.

Metode Serangan: Celah Keamanan Canggih

Berdasarkan riset dari Amnesty International dan Citizen Lab, serangan ini dilakukan dengan memanfaatkan celah keamanan “Zero-Day” pada perangkat iOS. Jurnalis tersebut menjadi sasaran melalui pesan teks yang mengandung tautan berbahaya yang dirancang khusus untuk menginfeksi perangkat tanpa disadari oleh korban.

Sekali terinfeksi, spyware Predator mampu: Mengaktifkan mikrofon dan kamera secara jarak jauh. Mengakses pesan terenkripsi di WhatsApp, Signal, dan Telegram. Memantau pergerakan korban secara real-time melalui GPS. Menyedot foto, kontak, dan riwayat penjelajahan web.

Siapa di Balik Intellexa dan Predator?

Intellexa adalah konsorsium perusahaan yang sering berpindah yurisdiksi, mulai dari Yunani hingga Irlandia, untuk menghindari pengawasan ketat. Produk unggulan mereka, Predator, merupakan pesaing utama dari spyware Pegasus buatan NSO Group.

Meskipun Intellexa mengklaim bahwa teknologi mereka hanya dijual kepada pemerintah untuk memberantas terorisme dan kejahatan berat, kasus di Angola ini menambah daftar panjang bukti bahwa alat tersebut sering kali disalahgunakan untuk memata-matai aktivis, politisi oposisi, dan jurnalis.

Reaksi Global dan Dampaknya bagi Apple

Apple telah lama berupaya memperkuat keamanan iPhone melalui fitur “Lockdown Mode”, namun serangan Predator ini menunjukkan bahwa industri spyware terus berevolusi untuk menembus pertahanan terbaru. Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya telah memasukkan Intellexa ke dalam daftar hitam perdagangan (entity list) karena dianggap mengancam keamanan nasional.

Kasus di Angola ini mempertegas bahwa ancaman siber kini menjadi alat represi fisik bagi para pekerja media di negara-negara dengan tingkat demokrasi yang rendah. Para ahli keamanan menyarankan jurnalis yang bekerja di area berisiko tinggi untuk segera memperbarui perangkat mereka ke versi iOS terbaru dan mengaktifkan fitur perlindungan ekstra.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts