SEANTERONEWS.com – Ketegangan di Selat Taiwan mencapai titik didih di awal tahun 2026. Presiden Taiwan, William Lai Ching-te, secara tegas menyatakan bahwa pulau tersebut tidak akan gentar dan akan terus memperkuat pertahanannya demi melindungi kedaulatan nasional dari tekanan militer China yang kian agresif.
Pernyataan keras ini muncul hanya beberapa jam setelah militer China (PLA) menyelesaikan latihan tempur skala besar bertajuk “Justice Mission 2025” yang mengepung wilayah udara dan perairan Taiwan. Latihan tersebut melibatkan simulasi blokade pelabuhan utama, termasuk Keelung dan Kaohsiung, serta penggunaan kapal-kapal sipil untuk mendukung armada tempur.
Dalam pidatonya di hadapan personel militer di pangkalan angkatan laut, Presiden Lai menekankan bahwa meskipun ancaman dari Beijing terus meningkat, keinginan rakyat Taiwan untuk menentukan nasib sendiri tetap teguh.
“Tugas utama kami adalah melindungi kedaulatan nasional, keamanan publik, dan hak-hak nelayan kami. Tekad ini tidak akan pernah berubah meskipun ada provokasi dari pihak manapun,” tegas Lai dalam laporan yang dikutip dari Reuters, Kamis (1/1/2026).
Latihan militer China kali ini dinilai sebagai salah satu yang paling berbahaya. Beijing merilis poster propaganda yang menunjukkan “Arrows of Justice” (Anah Panah Keadilan) yang mengarah tepat ke titik-titik vital Taiwan. Pakar militer menyebut aksi ini adalah “pesan keras” kepada Taiwan dan sekutunya, menyusul pengumuman paket penjualan senjata terbesar dari Amerika Serikat senilai $11,1 miliar.
Kementerian Pertahanan Taiwan melaporkan bahwa belasan kapal perang dan pesawat tempur China sengaja mendekati zona tambahan (contiguous zone) sejauh 24 mil laut dari pesisir Taiwan, yang memicu pengerahan jet tempur dan kapal patroli Taiwan untuk siaga penuh.
Meski situasi militer mencekam, pasar saham Taiwan menunjukkan ketangguhan yang mengejutkan dengan tetap mencetak rekor tertinggi di perdagangan pagi. Namun, para analis memperingatkan bahwa blokade berkepanjangan di masa depan dapat melumpuhkan rantai pasok semikonduktor dunia, mengingat posisi vital Taiwan dalam industri teknologi global.
Pihak Beijing melalui Komando Teater Timur menyatakan bahwa latihan ini adalah peringatan keras bagi kekuatan “separatis” yang menginginkan kemerdekaan Taiwan. Di sisi lain, dunia internasional kini menaruh perhatian besar pada bagaimana eskalasi ini akan berkembang di bawah dinamika politik global yang semakin tidak menentu di tahun 2026.[]









