SEANTERONEWS.com – Menutup tahun 2025, Sudan justru terjerumus ke dalam jurang kegelapan yang semakin dalam. Laporan terbaru menggambarkan kondisi di negara tersebut sebagai “kolaps kemanusiaan total” akibat pertempuran yang menemui titik buntu (fighting deadlock) antara faksi-faksi militer yang bertikai.
Hingga 31 Desember 2025, upaya diplomatik internasional tidak membuahkan hasil, meninggalkan rakyat Sudan dalam cengkeraman kelaparan, penyakit, dan kekerasan tanpa henti.
Pertempuran yang telah berlangsung selama berbulan-bulan kini mencapai tahap di mana tidak ada pihak yang mampu meraih kemenangan mutlak.
Garis depan pertempuran di kota-kota besar seperti Khartoum tidak banyak berubah, namun kehancuran infrastruktur terus meningkat.
Rumah sakit, sekolah, dan sistem distribusi air bersih di sebagian besar wilayah Sudan dilaporkan sudah tidak berfungsi sama sekali.
PBB memperingatkan bahwa tanpa koridor bantuan yang aman, jutaan orang kini berada di tahap pra-famine (menuju kelaparan massal).
Sepanjang bulan Desember 2025, kekerasan dilaporkan justru semakin intensif di beberapa titik strategis meskipun ada tekanan internasional untuk gencatan senjata menyambut tahun baru.
Gelombang pengungsi ke negara tetangga seperti Mesir dan Chad mencapai angka tertinggi, memicu krisis pengungsi regional yang tak terkendali.
Perundingan yang dimediasi oleh kekuatan regional dan global menemui jalan buntu karena masing-masing pihak tetap pada tuntutan yang tidak fleksibel.
Aktivis kemanusiaan memperingatkan bahwa Sudan bukan lagi sekadar negara yang sedang berperang, melainkan negara yang sedang “menghilang” dari peta stabilitas global. Tanpa intervensi konkret untuk menghentikan pasokan senjata kepada pihak yang bertikai, tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun kepunahan massal bagi warga sipil di wilayah konflik.
“Dunia tidak boleh terus berpaling. Apa yang terjadi di Sudan saat ini adalah kegagalan kolektif kemanusiaan kita,” ujar seorang pejabat bantuan senior.[]









