BREAKING

INTERNASIONAL

Rakyat Guinea Menuju TPS di Tengah Bayang-bayang Kekuasaan Militer

SEANTERONEWS.com – Untuk pertama kalinya sejak penggulingan Alpha Conde dalam kudeta berdarah tahun 2021, rakyat Guinea kembali mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) pada Minggu (28/12/2025). Pemilu ini dianggap sebagai tonggak penting bagi transisi demokrasi di negara kaya bauksit tersebut, meski banyak pihak yang meragukan transparansi prosesnya.

Suasana di ibu kota Conakry terpantau tenang namun dijaga ketat oleh aparat keamanan. Fokus utama dunia internasional kini tertuju pada pemimpin junta militer saat ini yang diprediksi kuat akan memenangkan kontestasi.

Mamady Doumbouya, jenderal yang memimpin kudeta tiga tahun lalu, muncul sebagai kandidat terkuat. Meskipun awalnya berjanji tidak akan mencalonkan diri, perubahan konstitusi dan dinamika politik terbaru telah memuluskan jalannya menuju kursi kepresidenan sipil.

Doumbouya mengklaim telah membawa stabilitas dan reformasi ekonomi selama masa transisi.

Beberapa tokoh oposisi utama dilaporkan dilarang berpartisipasi atau memilih untuk memboikot pemilu karena menganggap proses ini telah diatur sejak awal.

Militer dikerahkan secara masif untuk mencegah potensi kerusuhan selama proses penghitungan suara.

Guinea bukan sekadar negara di Afrika Barat; statusnya sebagai salah satu produsen bauksit terbesar di dunia membuat hasil pemilu ini sangat memengaruhi pasar komoditas global. Ketidakstabilan politik pasca-pemilu bisa mengancam rantai pasok global untuk industri aluminium.

Selain itu, keberhasilan pemilu ini akan menjadi preseden bagi negara-negara tetangga di kawasan Sahel (seperti Mali, Burkina Faso, dan Niger) yang juga sedang berada di bawah kepemimpinan militer hasil kudeta.

Para pemantau dari Uni Afrika dan badan internasional lainnya menyoroti beberapa poin krusial:

Laporan mengenai pembatasan akses internet dan tekanan terhadap jurnalis independen selama masa kampanye.

Adanya tuduhan ketidakakuratan data pemilih yang bisa menguntungkan pihak petahana.

Tingkat kehadiran pemilih di TPS akan menjadi indikator seberapa besar rakyat memercayai proses transisi ini.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts