SEANTERONEWS.com – Raksasa teknologi di balik ChatGPT, OpenAI, secara resmi mengumumkan pencarian sosok pemimpin baru untuk posisi yang sangat spesifik dan krusial: Head of Preparedness (Kepala Kesiapsiagaan). Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran global bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat disalahgunakan untuk melancarkan serangan siber berskala besar.
Penunjukan posisi ini menandakan bahwa OpenAI mulai serius memitigasi risiko “katastrofik” yang mungkin muncul seiring dengan semakin canggihnya model AI masa depan.
Sosok Head of Preparedness ini akan memimpin tim khusus yang bertugas mengevaluasi risiko ekstrem dari AI. Beberapa fokus utama tim ini meliputi:
-
Pertahanan Siber (Cybersecurity): Memastikan AI tidak digunakan untuk menciptakan kode jahat (malware) atau meretas infrastruktur penting negara.
-
Ancaman Kimia, Biologi, Radiologi, dan Nuklir (CBRN): Memastikan model AI tidak memberikan instruksi berbahaya terkait pembuatan senjata pemusnah massal.
-
Otonomi Model: Mencegah AI agar tidak “lepas kendali” atau bertindak di luar instruksi manusia yang dapat membahayakan keamanan global.
Langkah OpenAI ini dilakukan saat regulator di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa, terus menekan perusahaan AI untuk lebih transparan mengenai keamanan produk mereka. Dengan ancaman serangan siber yang semakin canggih, OpenAI ingin membuktikan bahwa mereka bukan sekadar menciptakan inovasi, tetapi juga membangun benteng pertahanan digital yang kuat.
Posisi Head of Preparedness ini disebut-sebut sebagai salah satu pekerjaan paling menantang di Silicon Valley saat ini. Kandidat yang terpilih tidak hanya harus memahami teknis AI secara mendalam, tetapi juga memiliki insting keamanan siber yang tajam untuk memprediksi cara-cara kreatif para peretas dalam mengeksploitasi teknologi ini.[]









