BREAKING

INTERNASIONAL

Banjir dan Suhu Beku Menghantam Gaza, Di Mana Dunia Saat Mereka Kedinginan?

SEANTERONEWS.com – Penderitaan warga Palestina di Jalur Gaza kini memasuki fase yang semakin memilukan. Selain harus bertahan di tengah konflik yang belum mereda, ribuan keluarga kini harus berjuang melawan alam. Hujan deras dan badai musim dingin yang melanda pada Sabtu (27/12/2025) telah mengubah kamp-kamp pengungsian menjadi lautan lumpur dan air.

Situasi yang mencekam: tenda-tenda plastik yang menjadi satu-satunya tempat berlindung kini robek dan terendam air, meninggalkan warga sipil—termasuk bayi dan lansia—menggigil tanpa pakaian hangat maupun tempat tidur yang kering.

Kondisi di lapangan semakin parah karena hancurnya sistem drainase akibat pemboman yang terus-menerus. Air hujan tidak memiliki tempat untuk mengalir, sehingga menciptakan genangan setinggi lutut di dalam kamp-kamp darurat.

Penurunan suhu yang drastis meningkatkan risiko hipotermia dan penyakit pernapasan akut.

Banjir membawa material tajam dan puing-puing bangunan yang membahayakan warga saat mereka mencoba menyelamatkan barang-barang terbatas mereka.

Tanpa bahan bakar dan listrik, warga terpaksa membakar sampah atau plastik hanya untuk sekadar mendapatkan kehangatan, yang justru memicu polusi udara beracun di dalam tenda.

Seorang ibu di sebuah kamp pengungsian di Gaza Tengah menceritakan betapa putus asanya mereka. “Anak-anak saya tidak bisa tidur karena baju mereka basah kuyup. Kami tidak punya selimut lagi. Jika bukan karena bom, cuaca dingin ini yang akan membunuh kami,” ujarnya kepada koresponden di lapangan.

Situasi ini memicu peringatan keras dari lembaga bantuan internasional. Mereka menegaskan bahwa bantuan medis dan perlengkapan musim dingin sangat mendesak namun sulit masuk karena blokade dan akses jalan yang rusak parah akibat banjir.

Organisasi kemanusiaan saat ini membutuhkan jalur aman untuk menyalurkan:

  1. Tenda Tahan Air: Menggantikan tenda darurat yang sudah hancur.

  2. Pakaian Hangat & Selimut: Terutama untuk balita yang sangat rentan terhadap cuaca beku.

  3. Peralatan Medis: Mengantisipasi lonjakan kasus pneumonia dan infeksi kulit akibat air kotor.

Musim dingin di Gaza bukan lagi sekadar perubahan cuaca, melainkan ancaman kematian massal bagi mereka yang sudah kehilangan segalanya. Dunia internasional kini didesak untuk bertindak lebih dari sekadar retorika sebelum suhu ekstrem ini memakan lebih banyak korban jiwa.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts