SEANTERONEWS.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali mengeluarkan peringatan keras sekaligus seruan darurat kepada dunia internasional untuk segera menghentikan pertumpahan darah di Sudan. Dalam laporan terbarunya, PBB menggambarkan kondisi warga sipil di sana tengah mengalami “penderitaan yang tak terbayangkan” akibat perang saudara yang tak kunjung usai.
Seruan gencatan senjata ini diperbarui pada Sabtu (27/12/2025), seiring dengan laporan meningkatnya angka kelaparan, kekerasan seksual, dan kehancuran total infrastruktur kesehatan di negara tersebut.
Pernyataan pejabat tinggi PBB yang menyebut bahwa Sudan kini berada di ambang kehancuran total. Warga sipil terjebak di tengah baku tembak antara faksi-faksi militer yang bertikai, dengan akses terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih dan obat-obatan yang hampir mustahil didapatkan.
“Kami melihat kehancuran tatanan sosial yang begitu masif. Anak-anak sekarat karena kelaparan, sementara bantuan kemanusiaan terus dihalang-halangi,” ungkap perwakilan PBB dalam sidang darurat tersebut.
Jutaan orang menghadapi ancaman kelaparan akut akibat terhentinya rantai pasok pangan.
Sudan kini mencatatkan salah satu angka pengungsi internal terbesar di dunia.
Penyaluran bantuan medis dan makanan seringkali dijarah atau diblokir oleh pihak-pihak yang bertikai.
Laporan mengenai kekerasan sistematis terhadap perempuan dan warga sipil terus meningkat secara signifikan.
PBB menegaskan bahwa tanpa adanya tekanan diplomatik yang nyata dan sanksi tegas dari komunitas internasional, seruan gencatan senjata ini hanya akan menjadi dokumen di atas kertas. Mereka mendesak pemimpin dunia untuk memprioritaskan krisis Sudan di atas agenda politik lainnya.
“Dunia tidak boleh terus berpaling. Apa yang terjadi di Sudan adalah luka bagi kemanusiaan kita semua,” tambah pernyataan tersebut.[]









