SEANTERONEWS.com – Industri kecerdasan buatan (AI) kembali menghadapi guncangan hukum besar di penghujung tahun 2025. Seorang reporter ternama dari New York Times resmi mengajukan gugatan terhadap tiga raksasa teknologi sekaligus: Google, OpenAI, dan xAI (perusahaan AI milik Elon Musk).
Gugatan ini menjadi tonggak baru dalam perseteruan panjang antara pemilik konten intelektual dengan perusahaan pengembang teknologi AI yang haus akan data.
Berdasarkan laporan yang dilansir oleh Reuters, penggugat menuduh bahwa perusahaan-perusahaan tersebut telah menggunakan ribuan artikel berita hasil riset mendalam tanpa izin (lisensi) untuk melatih model bahasa besar (Large Language Models) mereka.
Hasil dari “pelatihan” ini memungkinkan chatbot seperti ChatGPT, Gemini, dan Grok untuk merangkum atau bahkan memproduksi ulang informasi yang identik dengan karya asli sang jurnalis, sehingga berpotensi menghilangkan trafik dan pendapatan langsung bagi kreator aslinya.
Kasus ini menarik perhatian publik karena menyeret tiga pemain terbesar di industri AI secara bersamaan:
-
Google: Digugat terkait penggunaan data secara masif untuk melatih model Gemini.
-
OpenAI: Terus menghadapi tekanan hukum setelah serangkaian gugatan serupa dari penulis dan media massa.
-
xAI: Masuknya perusahaan Elon Musk dalam daftar gugatan menunjukkan bahwa model AI “Grok” juga dituduh mengambil data dari sumber berita berbayar.
Pengacara penggugat menegaskan bahwa jika perusahaan AI dibiarkan mengambil konten berkualitas secara cuma-cuma, maka ekosistem jurnalisme independen akan hancur. “Jurnalisme membutuhkan biaya besar untuk riset dan verifikasi. Teknologi AI tidak boleh berkembang di atas bangkai industri berita,” tulis dokumen gugatan tersebut.
Hingga saat ini, pihak Google, OpenAI, maupun xAI belum memberikan pernyataan resmi terkait gugatan yang baru masuk ke pengadilan federal New York ini.
Kasus ini diprediksi akan menjadi landmark case yang menentukan aturan main penggunaan data di era digital. Jika jurnalis berhasil memenangkan gugatan ini, perusahaan AI mungkin harus membayar royalti bernilai miliaran dolar di masa depan.[]









