SEANTERONEWS.com – Ancaman penyakit mulai menghantui ribuan pengungsi banjir dan longsor di Sumatra. Kondisi hunian sementara yang padat, minim sanitasi, serta terbatasnya akses air bersih membuat para pengungsi rentan terserang berbagai penyakit, terutama diare, ISPA, dan leptospirosis. Situasi semakin memprihatinkan karena sejumlah fasilitas kesehatan di daerah terdampak turut rusak dan tidak dapat beroperasi maksimal.
Komisi IX DPR RI mendesak Kementerian Kesehatan untuk bergerak cepat memperkuat layanan kesehatan darurat. Banyak wilayah yang masih kesulitan mendapatkan obat-obatan, tenaga medis, serta pasokan logistik kesehatan akibat akses yang terputus dan tingginya jumlah pengungsi. Sementara itu, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil menjadi pihak yang paling membutuhkan penanganan segera.
Kementerian Kesehatan telah mengerahkan tim respons cepat ke beberapa titik bencana dan mempercepat distribusi bantuan medis. Meski begitu, tantangan di lapangan masih besar, terutama karena kondisi sanitasi yang buruk dan fasilitas layanan kesehatan yang terdampak parah. Penanganan cepat diperlukan agar potensi penyebaran penyakit menular dapat dicegah sebelum berkembang menjadi wabah yang lebih luas.
Tambahan klinik lapangan dan pos kesehatan juga terus disiapkan di berbagai titik agar pelayanan dapat menjangkau pengungsi yang berada di lokasi terisolasi. Tenaga kesehatan dari berbagai daerah mulai dikerahkan untuk memperkuat layanan di wilayah yang mengalami kekurangan dokter dan perawat akibat bencana. Upaya ini diharapkan mampu menekan jumlah kasus penyakit yang terus bertambah di lokasi-lokasi pengungsian.
Di sisi lain, kebutuhan air bersih menjadi tantangan utama yang belum sepenuhnya terpenuhi. Banyak pengungsi masih mengandalkan air sungai atau air banjir yang disaring secara sederhana untuk keperluan sehari-hari. Hal ini meningkatkan risiko penularan penyakit berbasis air, terutama di lokasi yang tidak memiliki fasilitas sanitasi layak. Pemerintah pusat dan daerah diminta mempercepat distribusi tandon air, filter darurat, serta peralatan kebersihan.
Sementara itu, para relawan di lapangan mengungkapkan bahwa sebagian besar pengungsi masih kekurangan selimut, alas tidur, pakaian bersih, dan perlengkapan hidup dasar lainnya. Kondisi cuaca yang tidak menentu turut memperburuk kesehatan para pengungsi, terutama anak-anak yang mulai mengalami gejala batuk dan demam. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan para donatur sangat dibutuhkan agar kebutuhan dasar para korban banjir dapat terpenuhi secara merata.[]










