Banda Aceh – Dalam gelombang aksi unjuk rasa yang terjadi di halaman Gedung DPRA pada Senin, 1 September 2025, bendera Bintang Bulan—simbol religius dan historis masyarakat Aceh—dibawah dengan penuh semangat oleh ribuan demonstran. Bendera ini dipandang sebagai ekspresi kultural sekaligus protes simbolik terhadap dinamika kekuasaan pusat.
Aksi yang berlangsung sekitar pukul 14.30 WIB dipenuhi elemen mahasiswa dan masyarakat luas, menuntut reformasi di tubuh DPR dan Polri, penyelesaian pelanggaran HAM, serta penolakan pembangunan batalyon militer dan eksploitasi tambang. Dalam situasi yang memanas, bendera ini menjadi penegasan identitas dan pesan perlawanan rakyat Aceh terhadap sikap elit politik.
Teriakan “Aceh merdeka woi” mengiringi pengibaran bendera, mencerminkan keinginan kuat akan suara lokal dan keadilan. Massa aksi bergerak di tengah penjagaan ketat aparat, dengan ketegangan yang terkendali berkat imbauan damai serta semangat kolektif yang tinggi.
Menurut kajian historis, bendera Bintang Bulan bukan sekadar simbol kepisahan, melainkan bagian dari warisan simbolis Aceh yang menuntut penghormatan budaya sekaligus rekonsiliasi atas dinamika masa lalu.[]









