Jakarta – Gelombang aksi massa protes yang melanda ibu kota berujung ricuh dan tak terkendali. Salah satu potongan kisah mengungkap bahwa penjarahan rumah pejabat termasuk dikontrol dan berdasarkan informasi dari pimpinan massa. Seorang peserta aksi, yang menyebut dirinya Ahu, menyatakan dirinya “tanpa disadari ketinggalan rombongan,” sehingga ia tidak mengetahui detail yang terjadi.
Cerita Ahu: “Ada Tiga Rumah yang Boleh Dijarah…”
Menurut Ahu, pimpinan rombongan sebelumnya menyampaikan bahwa ada empat rumah pejabat yang menjadi target penjarahan—termasuk rumah pejabat tinggi dan satu lainnya, yaitu kediaman Presiden Prabowo Subianto.
Namun, Ahu tidak menerima informasi lanjutan soal Sri Mulyani atau pejabat lainnya sebelum dirinya terpisah dari rombongan. Ini mempertegas bahwa strategi penjarahan terorganisir dan diarahkan secara tertutup—hanya sebagian orang yang tahu tujuan utamanya sebelum aksi dijalankan.
Fakta Singkat Insiden Penjarahan
| Rumah Dijarah | Barang dan Kerusakan |
|---|---|
| Ahmad Sahroni | TV, tas mewah, patung, mobil Ferrari, Porsche |
| Eko Patrio, Uya Kuya, Nafa Urbach | Barang elektronik, pakaian mewah, perabot |
| Sri Mulyani | Elektronik, perhiasan, bahkan ring basket dijarah |
Rumah-rohman para pejabat seperti Sahroni dan Sri Mulyani diserbu dengan cepat dan diarahkan, menunjukkan bahwa kekacauan ini bukan hanya spontan, melainkan terencana oleh kelompok tertentu.
Kesimpulan Krusial
Insiden ini menunjukkan bahwa kerusuhan yang terjadi bukan murni ledakan massa sembarangan, melainkan ada elemen pengorganisasian di belakangnya. Narasi “yang ketinggalan rombongan” dari Ahu menjadi bukti bahwa sebagian tindakan dilakukan atas arahan—menimbulkan pertanyaan serius mengenai peran kepemimpinan massa dalam mengarahkan kerusuhan.









