Analoginya Tajam, Kritik Keuangan Negara Jadi Inti Perdebatan
seanteronews.com – Pengamat politik Rocky Gerung melancarkan kritik pedas terhadap Menteri Keuangan Sri Mulyani setelah pernyataannya mengenai gaji guru dan dosen sebagai beban keuangan negara. Rocky menggunakan analogi drastis tentang Revolusi Prancis—jika Sri Mulyani hidup saat itu, menurutnya, “kepalanya sudah dipenggal”.
Menurut Rocky, pernyataan tersebut sangat berbahaya karena menyalahi mandat konstitusional—yaitu tugas negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia mengingat sejarah Étienne de Silhouette, Menteri Keuangan masa Raja Louis XVI, yang dikudeta karena membebankan rakyat dengan pajak berlebihan demi mempertahankan kemewahan keraton.
Konstitusi Tegaskan Tanggung Jawab Negara pada Pendidikan
Rocky menegaskan bahwa konstitusi UUD 1945 secara eksplisit menuliskan bahwa negara wajib mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, pengeluaran untuk pendidikan, khususnya bagi guru dan dosen, haruslah menjadi tanggung jawab penuh negara. Ia menyoroti bahwa sejak awal berdirinya, Indonesia memang dibangun dengan prinsip sosialistis—yakni mengutamakan kesejahteraan rakyat kecil melalui pendidikan dan layanan publik yang memadai.
Memantik Polemik dari Pernyataan di ITB
Kontroversi ini bermula dari pernyataan Sri Mulyani dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri di ITB pada 7 Agustus 2025. Saat itu, ia menyebut beban gaji guru dan dosen sebagai tantangan serius bagi APBN dan mempertanyakan apakah pembiayaan pendidikan sepenuhnya harus dibiayai negara atau juga dibantu oleh masyarakat. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari berbagai pihak—yang berpolemik bukan hanya mengenai retorikanya, tetapi juga tanggung jawab negara dalam bidang edukasi.[]









