SEANTERONEWS.com — Pemerintah Mesir secara tegas menuntut penjelasan resmi dari otoritas Israel setelah muncul pernyataan kontroversial Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang menyatakan keterikatan dengan visi “Greater Israel”. Pernyataan itu dinilai sangat berbahaya karena dianggap mengancam stabilitas kawasan dan merongrong proses perdamaian di Timur Tengah.
Reaksi Keras Mesir terhadap Retorika Ekspansionis
Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan keprihatinannya atas narasi tentang “Greater Israel”, yang disebutnya sebagai simbol dari penolakan terhadap opsi perdamaian dan indikasi eskalasi konflik. Mereka menegaskan bahwa aspirasi seperti itu jelas bertolak belakang dengan nilai-nilai kerjasama regional dan kebijakan jangka panjang menuju stabilitas.
Tuntutan Tegas untuk Klarifikasi Resmi
Mesir meminta Israel memberikan klarifikasi mengenai pandangan ini. Dalam pandangan Kairo, penyampaian visi ekspansionis secara terbuka hanya akan memperparah ketegangan di kawasan dan mempersulit partisipasi aktif negara-negara Arab dalam negosiasi damai—sebuah keharusan demi tercapainya solusi dua-negara.
Penegasan Solusi Dua-Negara sebagai Satu-satunya Jalan Damai
Pihak Mesir meneguhkan kembali dukungannya terhadap negara Palestina merdeka yang berbatas pada perbatasan tahun 1967 dan menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Negara ini menegaskan bahwa perdamaian sejati hanya dapat terjadi lewat negosiasi yang adil dan berdasarkan resolusi internasional terkait konflik Israel–Palestina.
Reaksi Dunia Arab dan Islam yang Serentak
Pernyataan Netanyahu juga telah memicu kecaman luas dari berbagai negara Arab dan organisasi Islam, termasuk Liga Arab dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yang menilai visi “Greater Israel” sebagai pelanggaran kedaulatan dan ancaman nyata terhadap keamanan regional. Al-Azhar, lembaga keagamaan terkemuka di Mesir, juga mengecam pernyataan tersebut sebagai pandangan kolonial yang menafikan pluralisme dan keberadaan Palestina.[]










