Seantertonews.com – Dua sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Nvidia sedang mempertimbangkan berbagai tawaran lokasi di Israel sebagai bagian dari rencana ekspansi besar mereka. Langkah ini dilakukan untuk menjawab meningkatnya permintaan pusat data kecerdasan buatan (AI).
Proyek Besar, Ribuan Lapangan Kerja
Awal pekan ini, Nvidia mengajukan permintaan informasi untuk mencari lahan di dekat fasilitas mereka di wilayah utara Israel. Proyek ini diperkirakan akan menelan biaya miliaran dolar dan bisa menciptakan ribuan pekerjaan baru.
Nvidia, yang berbasis di Santa Clara, AS, saat ini merupakan salah satu perusahaan teknologi paling berharga di dunia dengan nilai pasar mencapai $4 triliun. Mereka mulai beroperasi di Israel pada 2020 setelah mengakuisisi Mellanox Technologies senilai hampir $7 miliar. Kantor pusat regional mereka terletak di Yokneam, dekat Haifa.
Puluhan Tawaran dari Berbagai Kota
Sumber lain menyebut bahwa Nvidia telah menerima puluhan proposal dari berbagai kota dan institusi di Israel, termasuk dari lokasi-lokasi yang jauh dari Haifa. Perusahaan memberi batas waktu hingga 23 Juli untuk menerima proposal tersebut. Kompleks yang direncanakan akan menempati area seluas 180.000 meter persegi.
Keterlibatan Nvidia dalam Ekonomi dan Militer Israel
Setelah mengakuisisi Mellanox, Nvidia kini mempekerjakan lebih dari 5.000 orang di Israel—sekitar 15% dari total karyawannya secara global. Mereka beroperasi di beberapa kota besar seperti Tel Aviv, Yerusalem, dan Beersheba. Pada 2025, Nvidia juga mengumumkan investasi baru senilai lebih dari $600 juta untuk membangun pusat data AI dan kampus teknologi besar.
Peran Kontroversial dalam Konflik Gaza
Nvidia mendapat sorotan karena teknologinya—termasuk sistem DGX dan kartu AI Jetson—disebut digunakan oleh militer Israel dalam konflik di Gaza. Produk-produk ini diduga terlibat dalam sistem kecerdasan buatan seperti “Lavender” dan “Gospel” yang dikaitkan dengan serangan terhadap warga sipil Palestina.
Selain itu, selama perang Gaza, Nvidia dan karyawannya menyumbangkan $15 juta dan memberikan bantuan logistik kepada warga Israel yang terdampak. Tindakan ini membuat Nvidia menjadi sasaran kampanye Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) yang menuduh perusahaan itu mendukung militerisasi dan penindasan terhadap Palestina.
Peringatan dari Pelapor Khusus PBB
Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese, dalam laporannya pada Juni 2025 menyebut Nvidia sebagai salah satu dari 48 perusahaan yang terlibat dalam pelanggaran hukum internasional terkait konflik Gaza. Ia menyoroti peran teknologi AI, layanan cloud, dan sistem pengawasan dalam mendukung penargetan dan pengendalian sistematis terhadap warga Palestina.
Albanese menegaskan, “Genosida Israel terus berlanjut karena menguntungkan secara ekonomi,” sambil menunjukkan bahwa pasar saham Israel meningkat dan banyak perusahaan meraup keuntungan besar selama perang. Temuannya juga mendapat dukungan dari ekonom ternama seperti Yanis Varoufakis dan Thomas Piketty.[]










