BREAKING

EKONOMI

Rupiah Tembus Rp17.675, Warga Beralih ke Aset Valas dan Emas

Rupiah kian melemah hingga tembus Rp17.675 per Dolar AS. Sentimen pasar memburuk pasca pernyataan Presiden Prabowo, memicu warga beralih ke valas dan emas.

SEANTERONEWS.com – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan yang signifikan. Pada perdagangan Senin (18/5/2026), mata uang Garuda sempat menyentuh level terendah di angka Rp17.675 per Dolar AS. Kondisi ini turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok 4,35 persen ke posisi 6.431.

Tekanan pasar ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif, termasuk respons publik terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih, Sabtu (16/5/2026). Dalam pidatonya, Presiden menyebut bahwa pelemahan Rupiah tidak berdampak langsung pada masyarakat desa karena tidak menggunakan Dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pernyataan tersebut kurang tepat dan justru memperburuk kondisi pasar.

“Pernyataan Presiden Prabowo berakibat fatal terhadap kelemahan mata uang Rupiah. Fenomena masyarakat yang mulai berpindah menabung dari Rupiah ke valuta asing menambah tekanan berat pada nilai tukar kita,” ujar Ibrahim.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, mengkritik sikap pemerintah yang dinilai terlalu meremehkan situasi ekonomi global. Menurut Bhima, di tengah ketidakpastian saat ini, pemerintah seharusnya menyiapkan langkah antisipasi serius dan memberikan stimulus, bukan justru menyepelekan dampaknya terhadap masyarakat luas.

Pasca pelemahan Rupiah yang berlarut, media sosial dipenuhi dengan diskusi mengenai strategi lindung nilai (hedging). Banyak masyarakat yang mulai beralih menyimpan aset dalam bentuk valuta asing, seperti Dolar Singapura (SGD) dan Dolar AS (USD), atau logam mulia (emas).

Di platform Threads dan X, sejumlah warganet mengaku telah mulai mengalihkan dana mereka dari tabungan Rupiah dan instrumen obligasi ke mata uang asing. Beberapa investor ritel bahkan memilih untuk menghentikan sementara aktivitas investasi saham sebagai respons atas ketidakpastian ekonomi saat ini.

“Di titik ini, bukan lagi tentang return. Kita sudah masuk ke fase survival mode,” tulis salah satu pengguna di media sosial X.

Fenomena perpindahan aset ini mencerminkan hilangnya kepercayaan pelaku pasar terhadap stabilitas mata uang domestik dalam jangka pendek. Jika kondisi ini terus berlanjut, tekanan pada Rupiah diperkirakan masih akan membayangi pasar keuangan Indonesia dalam beberapa waktu ke depan.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts