BANDA ACEH – Suasana berbeda terasa di gedung AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Rabu (4/11/2026). Di sela pelaksanaan The 16th Annual International Conference (AIC) 2026, deretan stan bazar berdiri rapi di dalam gedung. Stan-stan itu menawarkan beragam produk lokal, mulai dari jamu, obat-obatan herbal, hingga aneka makanan khas daerah.
Sebagian besar stan menampilkan hasil olahan putra-putri daerah. Pengunjung yang datang tidak hanya melihat-lihat, tetapi juga berinteraksi langsung dengan para penjaga stan yang menjelaskan bahan dan proses pembuatan produk. Kehadiran bazar ini menambah warna pada konferensi ilmiah yang biasanya identik dengan presentasi makalah dan diskusi akademik.
AIC 2026 berlangsung pada 4–5 November 2026 secara hybrid, sehingga dapat diikuti secara langsung maupun daring. Menurut laman resmi konferensi, peserta berasal dari lebih dari 30 negara. Tahun ini AIC mengusung tema “Advancing Research and Innovation for a Resilient, Green, and Inclusive Future”. Konferensi dibagi dalam tiga bidang fokus, yakni Sciences and Engineering, Environmental and Life Sciences, dan Social Sciences.
Penyelenggaraan AIC bukan hal baru bagi USK. Konferensi tahunan ini digelar melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) sejak 2011 sebagai wadah akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa untuk berbagi hasil riset dan inovasi. Pada masa pandemi COVID-19, konferensi ini sempat beralih ke format daring. Edisi 2026 menjadi penyelenggaraan ke-16.
Di tengah agenda ilmiah tersebut, bazar produk lokal menjadi ruang bagi pelaku usaha dan mahasiswa untuk memperkenalkan karya mereka kepada peserta, tamu, dan pengunjung kampus. Bagi banyak pelaku UMKM, keramaian acara berskala internasional seperti ini merupakan kesempatan memperluas jaringan sekaligus menjangkau calon pembeli.
Faiz Maulana, mahasiswa yang bertugas menjaga salah satu stan di dalam gedung AAC Dayan Dawood, mengatakan bahwa ia berharap kegiatan ini membawa dampak nyata bagi daerah.
“Harapan saya, kegiatan ini dapat mendorong daerah untuk menghasilkan produk lokal, memajukan UMKM daerah, dan menggerakkan roda ekonomi daerah,” ujarnya.
Harapan itu sejalan dengan semangat tema AIC 2026 yang menekankan ketangguhan, keberlanjutan, dan inklusivitas. Produk lokal berbasis bahan alam, seperti jamu dan obat herbal, dinilai punya potensi besar untuk dikembangkan karena dekat dengan kekayaan sumber daya daerah. Ketika riset dan inovasi di kampus terhubung dengan pelaku usaha kecil, hasilnya diharapkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pelaksanaan AIC 2026 turut didukung sejumlah pihak. Dalam materi publikasi acara, tercantum antara lain PLN dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebagai sponsor.
Hingga hari pertama konferensi, bazar di gedung AAC Dayan Dawood tampak ramai dikunjungi. Para penjaga stan berharap geliat serupa terus berlanjut hingga hari kedua, 5 November 2026, sehingga produk lokal Aceh semakin dikenal luas.(*)













