JAKARTA – Program kemitraan strategis bilateral antara Republik Indonesia dan Korea Selatan melalui proyek bantuan pembangunan resmi (Official Development Assistance/ODA) bertajuk Smart Factory resmi mengakhiri masa tugasnya setelah beroperasi penuh selama tiga tahun sejak 2023. Penutupan kemitraan yang melibatkan Kementerian Koperasi (Kemenkop) RI, Asosiasi Inovasi Bisnis Korea Selatan (INNOBIZ), dan Universitas Bina Nusantara (BINUS University) ini menjadi tonggak penting integrasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta otomatisasi produksi bagi pelaku ekonomi kerakyatan nasional.
Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh konsorsium pelaksana yang dinilai berhasil mentransfer teknologi manufaktur presisi kepada sektor Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM).
Ferry menegaskan bahwa penuntasan proyek kerja sama ini tidak menandakan selesainya kolaborasi, melainkan menjadi pijakan awal untuk memperluas jangkauan kerja sama teknologi bilateral ke fase berikutnya.
“Kemenkop membuka ruang selebar-lebarnya untuk memperluas kemitraan strategis, khususnya pada ranah pemanfaatan teknologi pabrik pintar (smart factory), pertanian berbasis otomasi (smart farming), serta penguatan kapasitas digital SDM koperasi di tanah air,” ungkap Ferry saat memberikan sambutan pada agenda penutupan proyek ODA dan peluncuran Asosiasi Inovasi Teknologi Koperasi dan UKM (AVITEK KUKM) di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Warisan Fasilitas Pelatihan Modern di Kampus Bekasi
Ferry menggarisbawahi bahwa program ini telah memberikan lompatan pemahaman teknis yang signifikan bagi pegiat usaha kecil, mulai dari tata kelola data industri, otomasi jalur perakitan, hingga penerapan analitik AI demi meningkatkan produktivitas serta daya saing produk lokal di kancah persaingan pasar terbuka.
Salah satu capaian paling konkret dari proyek tiga tahun ini adalah pendirian pusat pelatihan kejuruan modern, Smart Factory Training Center (SFTC), yang berlokasi di Kampus BINUS Bekasi. Fasilitas ini didesain sebagai inkubator kompetensi dan laboratorium percontohan bagi pelaku usaha dalam mengadopsi mesin industri terhubung (Internet of Things/IoT) sebelum mengimplementasikannya di lini produksi masing-masing.
“Kami menaruh harapan besar agar capaian riset dan praktik baik yang telah terbentuk tidak berhenti di atas meja seremoni belaka, melainkan terus direplikasi untuk memacu percepatan modernisasi kelembagaan koperasi dan bengkel kerja UKM di seluruh pelosok negeri,” imbuhnya.
Peluncuran AVITEK KUKM sebagai Mesin Keberlanjutan
Guna menjamin kesinambungan alih teknologi pascaproyek ODA usai, pemerintah menyambut baik peresmian Asosiasi Inovasi Teknologi Koperasi dan UKM (AVITEK KUKM). Organisasi independen ini dirancang sebagai jembatan kemitraan baru antara akademisi, teknokrat industri, serta pelaku usaha rakyat.
Melalui kehadiran asosiasi tersebut, pemerintah berkomitmen mendorong para pelaku KUKM lokal agar mampu menyesuaikan ritme produksinya dengan standar rantai nilai ekonomi global (global value chains). Ke depan, transfer pengetahuan dan peningkatan kompetensi tenaga kerja akan diakselerasi melalui pemetaan kebutuhan nyata di lapangan.
“Pemerintah berharap inisiatif ini menjadi instrumen permanen agar koperasi dan UKM Indonesia dapat terus naik kelas secara berkelanjutan. Selamat atas peluncuran AVITEK KUKM, kami percaya wadah ini mampu menjalankan peran strategisnya secara mandiri, profesional, dan inklusif demi kemajuan perekonomian bangsa,” pungkas Ferry.[]











