BANDA ACEH – Pendekatan humanis dalam merespons keresahan sosial terus diperluas oleh jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Aceh. Mengusung konsep rembuk santai, Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan menemui ratusan warga pencari nafkah melalui program bertajuk Polisi Peduli Pengangguran (Poliran) di Warung D’Kupi Aceh, kawasan Keudah, Kota Banda Aceh, Kamis (29/10/2026).
Kegiatan tatap muka langsung ini merupakan implementasi percepatan Program Quick Win Kapolri yang diturunkan ke daerah dengan filosofi keterpaduan kemitraan antara polisi dan masyarakat.
Forum tersebut dirancang sebagai ruang temu inklusif yang melibatkan kelompok pencari kerja baru, tenaga kerja terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK), kurir logistik, pengemudi sektor transportasi, hingga buruh kontrak lintas sektor.
Dalam arahannya, Irjen Pol. Ruddi menegaskan bahwa peran institusi kepolisian modern tidak semata-mata berkutat pada ranah penegakan hukum dan pengamanan wilayah. Penanganan akar masalah kesejahteraan, termasuk kerentanan ekonomi akibat minimnya serapan tenaga kerja, dipandang krusial karena berkorelasi langsung terhadap ketahanan sosial keluarga dan stabilitas keamanan lingkungan.
“Poliran bukan seremonial sesaat. Ini adalah ikhtiar kami untuk duduk bersama, mendengar secara langsung rintangan yang dihadapi rekan-rekan pencari kerja, sekaligus menampung masukan konkret untuk ditindaklanjuti secara berkesinambungan ke berbagai penjuru Aceh,” ungkap Ruddi di hadapan para peserta.
Menjembatani Bakat Lokal dan Kebutuhan Industri
Ruddi memaparkan bahwa Polda Aceh berinisiatif memosisikan diri sebagai simpul penghubung (hub) yang menjembatani talenta masyarakat dengan pemangku kepentingan ketenagakerjaan.
Ia mendorong dilakukannya pemetaan profil kompetensi secara terstruktur, mulai dari jenjang pendidikan, keahlian teknis, riwayat pengalaman, hingga analisis kebutuhan pelatihan vokasi.
Untuk mengeksekusi rencana tersebut, kepolisian menggandeng kolaborasi multi-instansi bersama Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (Disnakermobduk) Aceh, Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Aceh, Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Aceh, Aliansi Buruh Aceh, serta asosiasi pelaku dunia usaha lokal.
“Sinergi lintas sektor sangat mendesak agar masyarakat kita tidak berjalan sendirian mencari lowongan. Melalui keterpaduan data dan pelatihan terarah, peluang saudara-saudara kita untuk terserap di dunia industri atau merintis usaha mandiri dapat semakin terbuka lebar,” tegas Kapolda.
Dukungan Pemerintah Daerah Tekan Kriminalitas
Langkah jemput bola korps bhayangkara ini disambut positif oleh Pemerintah Aceh. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh, Akmil Husen, yang hadir dalam pertemuan tersebut, menilai inisiatif Poliran sangat relevan dengan upaya pemerintah daerah menekan tingkat pengangguran terbuka.
“Kami menyambut baik terobosan Poliran ini. Membuka jalan keluar bagi para pencari kerja tidak hanya berdampak pada perbaikan ekonomi keluarga, tetapi juga secara preventif mampu meminimalisasi potensi tindak kriminal yang kerap kali dipicu oleh tekanan ekonomi,” ujar Akmil.
Diskusi yang berlangsung hangat hingga siang hari tersebut melahirkan sejumlah usulan solutif dari kalangan buruh dan pemuda setempat, khususnya terkait perlunya kemudahan akses sertifikasi keahlian, keterbukaan informasi bursa kerja, dan perlindungan bagi pekerja informal di Aceh. Program Poliran dijadwalkan akan digulirkan secara bertahap ke tingkat polres dan polsek di seluruh kabupaten/kota se-Provinsi Aceh.[]










