BREAKING

EKONOMINASIONAL

Kongres Syarikat Islam: Dakwah Ekonomi Umat via Koperasi

Penutupan Kongres Nasional Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam di Surabaya fokus pada kebangkitan ekonomi kerakyatan berbasis koperasi dan ekosistem masjid.

SURABAYA – Semangat perlawanan terhadap sistem ekonomi kapitalistik kembali digaungkan dari Kota Pahlawan. Penutupan Kongres Nasional Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam (SI) di Surabaya, Selasa (20/10/2026), menjadi momentum krusial bagi organisasi tertua di Indonesia ini untuk meneguhkan kembali peran strategisnya di sektor dakwah ekonomi umat berbasis koperasi.

Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam, Ferry Juliantono, mengobarkan kembali pemikiran visioner dari tokoh pendiri bangsa, H.O.S. Tjokroaminoto. Menurut Ferry, kemerdekaan sebuah bangsa hanyalah ilusi jika kedaulatan politik tidak dibarengi dengan kemandirian ekonomi kerakyatan (sosialisme Islam).

“Narasi dakwah ekonomi umat yang kita usung hari ini bermuara pada satu tujuan: kemerdekaan rakyat yang sejati. Kita mewarisi ideologi besar Tjokroaminoto yang dahulu digunakan untuk mendobrak kolonialisme. Kini, tantangan kita adalah melawan praktik ekonomi liberal-kapitalistik yang meminggirkan rakyat kecil,” tegas Ferry dengan penuh semangat.

Untuk merealisasikan hal tersebut, Ferry menjadikan sejarah sebagai rujukan. Ia mengingatkan kembali tonggak sejarah berdirinya Koperasi Setia Budi Usaha di Surabaya pada 1913 yang diinisiasi oleh Tjokroaminoto. Menghidupkan kembali roh koperasi adalah kunci transformasi ekonomi saat ini.

Sinergi Koperasi dan Ekosistem Masjid

Dalam forum akbar tersebut, Ferry turut melontarkan apresiasi atas tercapainya Nota Kesepahaman (MoU) antara Kementerian Koperasi dan Kementerian Agama (Kemenag). Kerja sama lintas kementerian ini membidik pembentukan dan penguatan koperasi yang bermarkas di masjid-masjid seluruh penjuru Nusantara.

“Kolaborasi antara kelembagaan Islam, rumah ibadah, dan sistem koperasi adalah sebuah ekosistem raksasa. Jika dikelola secara profesional, ini akan menjadi kekuatan alternatif yang sangat dahsyat untuk mengangkat derajat kesejahteraan rakyat,” imbuhnya.

Masjid Sebagai Episentrum Ekonomi

Turut hadir memberikan sambutan penutup, Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, mengingatkan ribuan kader yang hadir tentang identitas asli dan akar sejarah (DNA) organisasi. Ia menuturkan bahwa sebelum menjadi entitas pergerakan politik, organisasi ini lahir dari rahim para saudagar dengan nama Serikat Dagang Islam (SDI).

“Visi para pendahulu (founding fathers) kita sangat terang benderang. Jalan paling logis untuk memerdekakan umat Islam adalah dengan menguatkan pilar ekonominya, agar kita tidak menjadi kaum yang termarginalkan di negeri sendiri,” papar Nasaruddin.

Menag melemparkan gagasan konkret untuk menyulap masjid dan pesantren dari sekadar tempat ritual ibadah menjadi episentrum ekonomi peradaban. Salah satu cetak biru yang ditawarkan adalah pembangunan jaringan ritel atau minimarket yang dikelola secara berjemaah.

“Kita memiliki ratusan ribu masjid. Bayangkan jika perkarangan masjid itu kita optimalkan menjadi minimarket umat. Keuntungan dari transaksi jual beli jemaah akan berputar kembali menjadi instrumen kesejahteraan bagi masjid dan lingkungan di sekitarnya,” jelasnya.

Konsistensi Dakwah dan Kewirausahaan

Harmonisasi visi juga ditekankan oleh Ketua Dewan Pusat Syarikat Islam periode 2026–2031, Hamdan Zoelva. Tokoh hukum tata negara yang telah menakhodai organisasi ini sejak 2010 tersebut, meminta seluruh kader untuk tidak melenceng dari khitah perjuangan.

“Kita harus fokus mengembalikan muruah Syarikat Islam. DNA kita direkayasa oleh para pengusaha dan kaum entrepreneur. Perpaduan antara dakwah agama dan kewirausahaan inilah yang harus terus kita tumbuhkembangkan,” ujar Hamdan.

Berakhirnya Kongres Nasional Majelis Tahkim ke-42 ini menandai babak baru bagi Syarikat Islam. Tantangan terbesar di depan mata kini bukan lagi merumuskan gagasan besar, melainkan bagaimana mengeksekusi rencana strategis tersebut menjadi program populis yang manfaat ekonominya benar-benar menyentuh piring nasi rakyat di akar rumput.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts