BREAKING

LINGKUNGAN

Karhutla Kalteng: Menhut Geser Armada Hujan Buatan

Terkendala jarak pandang akibat kabut asap, Menhut Raja Antoni mengalihkan rute pesawat modifikasi cuaca dan helikopter untuk atasi karhutla di Kalteng.

SEANTERONEWS.com – Pemerintah pusat terus memutar otak dan mengambil langkah taktis untuk meredam eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng). Buruknya kualitas udara yang membatasi jarak pandang memaksa pemerintah untuk mengubah strategi udara, termasuk memindahkan pangkalan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ke provinsi tetangga.

Menteri Kehutanan, Raja Antoni, mengungkapkan bahwa pekatnya kabut asap di langit Kalteng membuat aktivitas penerbangan penanggulangan bencana menjadi lumpuh sementara. Landasan pacu di Bandara Tjilik Riwut (Palangka Raya) dan Bandara Iskandar (Pangkalan Bun) dilaporkan belum memenuhi standar kelayakan terbang.

Menyikapi kebuntuan tersebut, operasi penyemaian awan yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis hingga Jumat (15-16 Oktober 2026), diputuskan untuk digeser pengoperasiannya dari Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

“Tim udara OMC insyaallah akan bermanuver pada tanggal 15 dan 16 Oktober ini. Kami memohon doa agar bibit awan hujan di lokasi sasaran cukup potensial. Mengingat pesawat tidak bisa lepas landas dari Tjilik Riwut dan Pangkalan Bun, kami mengambil langkah cepat menerbangkannya dari Syamsudin Noor,” ujar Menhut di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Manuver Helikopter Water Bombing

Tak hanya armada pesawat hujan buatan, strategi penempatan helikopter pengebom air (water bombing) turut dievaluasi. Menhut membeberkan bahwa sejatinya pemerintah telah menyiagakan enam unit helikopter pemadam di wilayah Kalteng, yang tersebar di Pangkalan Bun dan Palangka Raya.

Sayangnya, armada udara andalan ini terpaksa dilarang terbang (grounded) demi keselamatan kru. “Batas toleransi jarak pandang minimum untuk penerbangan helikopter adalah 5.000 meter. Di bawah angka itu, armada dilarang keras mengudara,” tegas Raja Antoni.

Sebagai jalan keluar, kementerian tengah menyusun skenario relokasi helikopter dari Kalimantan Selatan menuju Kuala Pembuang di Kabupaten Seruyan, yang tercatat memiliki indikator jarak pandang lebih bersahabat. Bahkan, pemerintah tak menutup kemungkinan untuk mendatangkan armada tambahan dari Provinsi Riau, menyusul mulai meredanya status karhutla di wilayah Sumatera tersebut.

“Rencananya armada akan kita tarik ke Kuala Pembuang agar lebih dekat ke titik sasaran. Target operasi utama water bombing nantinya akan difokuskan pada area kritis seperti Sungai Perlu dan Sungai Tanjung Rengas,” tambahnya.

Sinergi Operasi Darat Terpadu

Gempuran dari jalur udara tersebut dipastikan tidak akan berjalan sendirian. Pemerintah menjamin bahwa operasi darat akan diperkuat secara simultan guna memastikan titik api benar-benar padam hingga ke lapisan gambut terdalam.

Fokus penyisiran darat saat ini diarahkan ke kawasan pelestarian alam Tanjung Puting dan sekitarnya. Untuk mengeksekusi misi ini, aparat gabungan dari TNI, Polri, Kemenhut, serta Manggala Agni terjun langsung ke lapangan. Mereka turut didukung oleh kekuatan sipil yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), barisan relawan kemanusiaan, hingga jejaring Masyarakat Peduli Api (MPA).

Melalui kombinasi serangan udara yang lebih fleksibel dan penyisiran darat yang masif, pemerintah optimis krisis karhutla Kalteng dapat segera tertangani sebelum membawa dampak ekologis dan kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat Kalimantan.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts