ACEH SINGKIL – Kualitas udara di Kabupaten Aceh Singkil memburuk akibat kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera. Kamis (15/10/2026) pukul 13.00 WIB, platform pemantau IQAir mencatat indeks kualitas udara (AQI US) Singkil di angka 103 dengan polutan utama PM2.5 sebesar 36,4 µg/m³. Angka itu masuk kategori “tidak sehat bagi kelompok sensitif”.
Prakiraan per jam IQAir menunjukkan indeks bertahan di kisaran 102–103 hingga pukul 18.00 WIB. Kondisi cuaca saat pengukuran: suhu 29 derajat Celsius, kecepatan angin 14 km/jam, dan kelembapan 80 persen. IQAir menyebut data ini bersumber dari model turunan satelit (satellite-derived model), bukan stasiun pemantau di darat.
Sebaran asap karhutla mulai memasuki Aceh berdasarkan citra satelit BMKG pada Rabu (14/10). BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda memperkirakan asap berpotensi masuk ke 10 kabupaten/kota, termasuk Aceh Singkil, Aceh Selatan, Subulussalam, dan Aceh Tenggara. BMKG menjelaskan asap bergerak ke barat laut hingga utara mengikuti angin timur–tenggara, dan terpantau lewat satelit Himawari-9.
BMKG juga menyatakan tidak ada titik panas di Aceh yang menjadi sumber utama asap ini. Satelit tidak mendeteksi titik panas di Aceh pada 13 Oktober 2026, sehingga asap dipastikan berasal dari luar daerah.
Kelompok sensitif yang dimaksud meliputi anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita asma atau gangguan pernapasan. Warga disarankan mengurangi aktivitas berat di luar ruangan, memakai masker (N95/KN95 bila memungkinkan), menutup pintu dan jendela saat asap pekat, dan segera ke fasilitas kesehatan bila batuk berat atau sesak napas. Pemko Lhokseumawe juga mengimbau warga memantau ISPU lewat informasi resmi BMKG dan pemerintah.
Di sisi lain, BMKG memprakirakan hujan sedang hingga lebat berpotensi turun di sebagian besar wilayah Aceh sampai 20 Oktober 2026, yang dapat membantu menipiskan asap.(*)











