BREAKING

EKONOMI

Rupiah Menguat ke Rp17.889 Didorong Proyeksi Bank Dunia

Rupiah menguat ke level Rp17.889 per dolar AS usai Bank Dunia kerek proyeksi ekonomi RI jadi 5,2 persen.

SEANTERONEWS.com – Nilai tukar mata uang rupiah mencatatkan kinerja positif pada pembukaan transaksi pasar keuangan. Mata uang Garuda berhasil menguat terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (7/10/2026).

Merujuk data pasar yang dirilis Bloomberg, rupiah terapresiasi sebesar 10 poin atau menguat tipis 0,06 persen ke posisi Rp17.889 per dolar AS jika dibandingkan dengan posisi penutupan sesi sebelumnya.

Kenaikan ini didorong oleh kombinasi sentimen positif dari proyeksi terbaru lembaga ekonomi internasional serta melandainya data ekonomi di Amerika Serikat.

Revisi Naik Pertumbuhan Ekonomi oleh Bank Dunia

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan rupiah terjadi usai Bank Dunia merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 menjadi 5,2 persen.

Pembaruan angka tersebut tertuang dalam publikasi laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2026 yang dirilis pada Selasa (6/10/2026).

Lembaga keuangan internasional tersebut mengerek estimasi pertumbuhan nasional sebesar 0,5 poin persentase dari target perkiraan sebelumnya yang berada di level 4,7 persen.

Bank Dunia memperkirakan laju ekspansi ekonomi Indonesia akan bertahan stabil di kisaran 5,2 persen sepanjang tahun 2026 hingga 2027.

Katalis Belanja Awal Tahun dan Catatan Sektor Riil

Kenaikan proyeksi ini dipicu oleh dampak gejolak harga energi global yang ternyata lebih moderat terhadap perekonomian nasional dibanding prediksi awal.

Selain itu, konsumsi domestik terangkat berkat jadwal Ramadan dan Idulfitri yang berlangsung lebih awal, pencairan THR dan gaji ke-13, serta percepatan eksekusi program makan bergizi gratis.

Meski demikian, Bank Dunia memberikan catatan kehati-hatian terkait sinyal perlambatan aktivitas bisnis setelah periode awal tahun tersebut.

Penurunan terdeteksi dari indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur yang terkoreksi ke level 49,3 pada Agustus, merosotnya keyakinan konsumen ke angka 116,8 pada Juli, serta kekhawatiran pasar terhadap pelebaran defisit fiskal dan peringkat utang negara.

Pelemahan Indikator AS Meredam Agresivitas The Fed

Dari sisi eksternal, posisi tawar rupiah mendapatkan sokongan tambahan menyusul rilis data makroekonomi Amerika Serikat yang cenderung lesu.

Indeks inflasi belanja konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS per Agustus dilaporkan berada di bawah estimasi pasar, melengkapi data bulan sebelumnya yang turut direvisi melemah.

Penurunan tekanan inflasi dan melunaknya serapan tenaga kerja di AS dinilai memangkas peluang bank sentral AS (The Fed) untuk menaikkan suku bunga acuan dalam agenda pertemuan FOMC pada 27–28 Oktober mendatang.

Saat ini, para pelaku pasar tengah bersikap antisipatif menantikan peluncuran risalah pertemuan FOMC edisi September serta data klaim awal tunjangan pengangguran AS yang dijadwalkan terbit pada hari Kamis.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts