BREAKING

NASIONAL

DPR Desak PLN Mitigasi Krisis Listrik Akibat Cuaca

Anggota Komisi XII DPR RI, Shanty Alda Nathalia, mendesak pemerintah dan PLN memperkuat mitigasi kelistrikan akibat dampak cuaca ekstrem seperti El Nino dan La Nina.

JAKARTA – Anomali cuaca yang melanda berbagai wilayah di Tanah Air belakangan ini mulai mengancam ketahanan sistem kelistrikan nasional. Fenomena kemarau panjang hingga curah hujan ekstrem terbukti secara langsung memengaruhi performa pembangkit listrik dan mengganggu distribusi pasokan energi kepada masyarakat.

Merespons situasi krisis tersebut, Anggota Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Shanty Alda Nathalia, mendesak pemerintah bersama PT PLN (Persero) untuk segera mengambil langkah mitigasi. Ia menekankan bahwa keandalan listrik tidak boleh lumpuh hanya karena ketidaksiapan menghadapi perubahan iklim.

Shanty menyoroti krisis kelistrikan nyata yang saat ini tengah melanda Provinsi Sulawesi Selatan. Kemarau ekstrem di wilayah tersebut telah menyusutkan debit air secara drastis, sehingga melumpuhkan kapasitas produksi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

“Dampak nyata cuaca ekstrem terhadap sistem kelistrikan sudah kita lihat. Di Sulawesi Selatan, penyusutan debit air memaksa terjadinya pemadaman bergilir yang merugikan masyarakat dalam beberapa waktu terakhir,” tegas Shanty dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (28/9/2026).

Apresiasi Modifikasi Cuaca dan Desakan Evaluasi

Politisi dari PDI Perjuangan ini turut mengapresiasi langkah taktis yang telah dilakukan instansi terkait, seperti penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Rekayasa cuaca tersebut dinilai cukup efektif untuk memancing hujan buatan guna mengisi kembali cadangan air di waduk-waduk PLTA.

Meski demikian, Shanty mengingatkan bahwa solusi reaktif seperti itu tidaklah cukup. Rentetan gangguan akibat cuaca ini harus dijadikan momentum evaluasi besar-besaran terhadap cetak biru perencanaan energi nasional.

“Kejadian ini mutlak harus menjadi bahan evaluasi untuk menguji ketahanan sistem kelistrikan kita di tengah perubahan iklim. PLN dan pemerintah harus memiliki skenario mitigasi yang matang, termasuk menyiapkan pasokan daya pengganti yang bisa langsung difungsikan ketika pembangkit utama mengalami gangguan,” papar Shanty.

Ancaman Ganda: El Niño dan La Niña

Lebih jauh, Shanty memaparkan bahwa infrastruktur kelistrikan Indonesia menghadapi ancaman ganda dari berbagai skenario alam. Di satu sisi, fenomena El Niño memicu kekeringan yang melumpuhkan operasional PLTA. Di sisi lain, siklus La Niña membawa curah hujan ekstrem yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor, yang kerap kali merusak gardu induk maupun menumbangkan jaringan transmisi listrik.

Oleh sebab itu, kesiapsiagaan menghadapi multi-skenario bencana sangat krusial. Shanty mendesak agar terhentinya satu sumber pembangkit tidak lagi menciptakan efek domino yang menyebabkan pemadaman luas di masyarakat.

Ke depannya, ia merekomendasikan penguatan sistem kelistrikan secara berkelanjutan. Langkah ini harus mencakup perluasan diversifikasi sumber energi sekunder, penebalan cadangan daya (reserve margin), serta modernisasi infrastruktur kelistrikan agar lebih tangguh terhadap hantaman bencana.

“Ketersediaan listrik bukan sekadar soal penerangan. Listrik adalah urat nadi yang memastikan perputaran ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat tetap hidup. Kontinuitasnya harus dijamin, seberat apa pun tantangan cuaca yang kita hadapi,” pungkas Shanty.[]

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts