Penulis: Edi Syahputra H, S.Pd.
Guru SMAN 13 Banda Aceh/Pemerhati Pendidikan Aceh.
HARI Pendidikan Aceh (Hardikda) ke-67 seharusnya tidak berhenti pada upacara, spanduk, seminar, dan rangkaian kegiatan seremonial. Lebih dari itu, momentum ini harus menjadi kesempatan untuk bertanya secara jujur: sudah sejauh mana pendidikan Aceh mampu menyiapkan generasi muda menghadapi masa depan?
Pertanyaan tersebut penting karena dunia pendidikan terus berubah. Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, arus informasi yang begitu cepat, perubahan dunia kerja, serta tantangan moral dan sosial menuntut sistem pendidikan yang tidak sekadar berjalan, tetapi terus berbenah.
Tahun 2026, Hari Pendidikan Aceh mengusung tema “Memajukan Pendidikan Aceh, Membangun Generasi Muda Islami, Unggul dan Bermartabat.” Tema ini sesungguhnya merupakan pesan yang sangat strategis. Kata “islami”, “unggul”, dan “bermartabat” tidak boleh sekadar menjadi slogan, tetapi harus diterjemahkan dalam kebijakan dan praktik pendidikan sehari-hari.
Jangan Hanya Mengejar Angka
Keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya dilihat dari nilai ujian, jumlah lulusan, atau banyaknya piala yang dipajang di sekolah. Semua itu penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran.
Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mampu membentuk manusia yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter. Anak-anak Aceh harus mampu berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi dengan baik, bekerja sama, menghargai perbedaan, serta memiliki kemampuan memecahkan persoalan.
Lebih penting lagi, mereka harus memiliki akhlak dan integritas.
Kita tentu tidak ingin melahirkan generasi yang pintar secara akademik tetapi miskin empati. Kita juga tidak ingin melahirkan generasi yang menguasai teknologi tetapi mudah terjebak dalam penyalahgunaan media sosial, informasi palsu, perundungan, kekerasan, dan berbagai perilaku negatif lainnya.
Karena itu, pendidikan karakter harus ditempatkan sejajar dengan pendidikan akademik.
Guru Jangan Hanya Dituntut, tetapi Juga Dikuatkan
Di balik keberhasilan sebuah sekolah terdapat guru yang bekerja dengan sungguh-sungguh. Guru berada di garis terdepan dalam membentuk generasi.
Namun, guru hari ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain mengajar, guru harus beradaptasi dengan teknologi, memahami karakter peserta didik, mengembangkan pembelajaran yang bermakna, melakukan administrasi, serta terus meningkatkan kompetensi.
Karena itu, berbicara tentang peningkatan mutu pendidikan Aceh tidak mungkin mengabaikan guru.
Guru harus terus diberikan kesempatan untuk belajar, mengikuti pelatihan yang berkualitas, mengembangkan inovasi pembelajaran dan meningkatkan kompetensi profesional. Pada saat yang sama, persoalan kesejahteraan dan berbagai hak guru juga harus menjadi perhatian.
Jangan sampai kita berharap guru melahirkan generasi unggul, tetapi guru sendiri tidak mendapatkan dukungan yang memadai untuk menjalankan tugasnya.
Teknologi: Peluang Sekaligus Ancaman
Kehadiran teknologi dan kecerdasan buatan membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Peserta didik sekarang dapat memperoleh berbagai informasi hanya dalam hitungan detik.
Ini merupakan peluang besar. Tetapi jika tidak dibarengi dengan literasi digital dan karakter yang kuat, teknologi dapat menjadi persoalan baru.
Sekolah harus mengajarkan peserta didik bukan hanya bagaimana menggunakan teknologi, tetapi bagaimana menggunakannya secara bijak. Anak harus mampu membedakan informasi yang benar dan salah, memahami etika digital, menjaga privasi, serta menggunakan teknologi untuk belajar dan berkarya.
Kecerdasan buatan juga seharusnya tidak dipandang semata-mata sebagai ancaman bagi guru. Justru guru perlu memahami dan memanfaatkannya sebagai alat bantu pembelajaran, tanpa kehilangan peran utama sebagai pendidik.
Teknologi dapat membantu proses pendidikan, tetapi keteladanan tetap tidak dapat digantikan oleh mesin.
Jangan Lupakan Jati Diri Aceh
Di tengah derasnya arus globalisasi, pendidikan Aceh juga harus menjaga identitas daerah. Generasi muda perlu mengenal sejarah, budaya, seni, bahasa dan kearifan lokal Aceh.
Anak-anak Aceh harus mampu menjadi bagian dari masyarakat global tanpa kehilangan akar budayanya.
Pendidikan seni, budaya dan sejarah daerah tidak boleh dipandang sebagai pelajaran yang kurang penting. Justru melalui seni dan budaya, peserta didik dapat mengenal identitas dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu.
Begitu pula nilai-nilai keislaman harus hadir dalam perilaku, bukan hanya dalam teori.
Generasi islami bukan sekadar generasi yang memahami pengetahuan agama, tetapi generasi yang mampu menerapkan nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kesantunan dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Adalah Tanggung Jawab Bersama
Membangun pendidikan Aceh tidak bisa hanya dibebankan kepada guru dan sekolah. Pemerintah memiliki tanggung jawab menghadirkan kebijakan dan anggaran yang berpihak pada peningkatan mutu pendidikan. Kepala sekolah harus menjadi pemimpin pembelajaran yang mampu menggerakkan sekolah. Guru harus terus belajar dan berinovasi.
Orang tua juga memiliki peran yang sangat besar. Pendidikan karakter tidak akan berhasil jika nilai yang diajarkan di sekolah bertolak belakang dengan lingkungan keluarga.
Masyarakat pun harus ikut menciptakan lingkungan yang aman dan positif bagi anak-anak.
Dengan demikian, pendidikan harus dibangun melalui kolaborasi. Tidak ada satu pihak yang dapat bekerja sendiri.
Momentum untuk Berbenah
Usia ke-67 bukanlah usia untuk berpuas diri. Justru semakin bertambah usia, semakin besar tanggung jawab kita untuk melakukan evaluasi.
Masih ada sekolah yang membutuhkan penguatan sarana dan prasarana. Masih ada kesenjangan kualitas pendidikan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Masih ada guru yang membutuhkan peningkatan kompetensi dan dukungan dalam menjalankan tugas. Semua persoalan tersebut harus menjadi bahan evaluasi dan perbaikan bersama.
Hari Pendidikan Aceh ke-67 hendaknya menjadi momentum untuk membangun pendidikan yang lebih merata, berkualitas, adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap berakar pada nilai agama dan budaya Aceh.
Pada akhirnya, masa depan Aceh tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam, pembangunan infrastruktur, atau pertumbuhan ekonomi.
Masa depan Aceh sangat ditentukan oleh kualitas manusianya
Jika hari ini kita mampu mendidik generasi muda dengan ilmu, karakter, iman, kreativitas dan keterampilan, maka sesungguhnya kita sedang menyiapkan masa depan Aceh.
Karena itu, mari kita jadikan Hari Pendidikan Aceh ke-67 sebagai momentum untuk berhenti sejenak, melihat apa yang sudah dilakukan, mengakui apa yang masih kurang, dan kemudian bergerak bersama melakukan perbaikan.
Memajukan pendidikan Aceh bukan sekadar membangun sekolah, tetapi membangun manusia. Membangun generasi muda yang islami, unggul dan bermartabat berarti membangun masa depan Aceh yang lebih kuat.(*)











