BREAKING

OPINI

Kepala Desa Ulun Tanoh dan Jejak Kepemimpinan yang Menginspirasi

Penulis: Edi Syahputra H, S.Pd
Guru SMAN 13 Banda Aceh/Pemerhati Pendidikan Aceh.

KEPEMIMPINAN di tingkat desa sering kali luput dari perhatian. Padahal, desa merupakan ruang paling dekat antara pemerintah dan masyarakat. Di sanalah pelayanan publik bersentuhan langsung dengan kehidupan warga, pembangunan dirasakan secara nyata, dan seorang pemimpin diuji bukan hanya melalui kebijakan, tetapi melalui keberpihakannya kepada masyarakat.

Salah satu sosok yang menarik untuk dicermati adalah Suhardinsyah, S.Pd, Kepala Desa Ulun Tanoh, Kabupaten Gayo Lues. Di bawah kepemimpinannya, berbagai prestasi telah ditorehkan. Penghargaan demi penghargaan yang diraih bukan sekadar simbol, tetapi menunjukkan adanya proses, kerja keras, inovasi, serta kolaborasi antara pemerintah desa dan masyarakat.
Jejak tersebut memberikan sebuah pelajaran bahwa desa dengan segala keterbatasannya tetap mampu melahirkan prestasi apabila dipimpin dengan kesungguhan dan visi yang jelas.

Prestasi yang Berangkat dari Pengabdian

Pada tahun 2017–2018, Desa Ulun Tanoh berhasil meraih Juara III Pengelolaan Dana Desa Tingkat Provinsi. Penghargaan ini menjadi catatan penting karena pengelolaan dana desa bukan sekadar persoalan administrasi, tetapi menyangkut kepercayaan masyarakat dan tanggung jawab pemerintah desa dalam menggunakan anggaran untuk kepentingan publik.
Prestasi tersebut kemudian diperkuat dengan keberhasilan meraih Juara II Desa Mandiri dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Kodam Iskandar Muda terkait ketahanan pangan.

Ketahanan pangan merupakan isu yang sangat strategis, terutama bagi masyarakat desa. Desa tidak boleh hanya menjadi penerima pembangunan, tetapi harus mampu membangun kemandirian melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia.

Dalam konteks tersebut, prestasi Desa Ulun Tanoh menunjukkan bahwa pembangunan desa dapat diarahkan tidak hanya pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan ketahanan dan kemandirian masyarakat.

Dari Tingkat Kabupaten hingga Nasional

Prestasi berikutnya semakin memperlihatkan konsistensi Desa Ulun Tanoh dalam membangun tata kelola dan pemberdayaan masyarakat.

Desa Ulun Tanoh berhasil meraih Juara I Desa Berprestasi tingkat Kabupaten Gayo Lues, kemudian memperoleh Juara III tingkat Provinsi Aceh. Capaian tersebut bahkan mengantarkan Kepala Desa Ulun Tanoh, Suhardinsyah, S.Pd, ke Denpasar, Bali, untuk menerima apresiasi pada tingkat nasional.
Perjalanan dari tingkat kabupaten menuju provinsi hingga mendapatkan apresiasi nasional tentu bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan. Ada proses panjang yang melibatkan kepala desa, perangkat desa, lembaga desa, dan masyarakat.
Di sinilah kepemimpinan seorang kepala desa menemukan maknanya. Prestasi seorang kepala desa pada hakikatnya merupakan prestasi masyarakat yang dipimpinnya.

Suhardinsyah tidak berdiri sendiri. Di belakang capaian tersebut terdapat masyarakat Ulun Tanoh yang ikut bergerak dan memberikan dukungan.

Pengawasan Partisipatif, Membangun Demokrasi dari Desa

Hal menarik lainnya adalah Desa Ulun Tanoh ditetapkan sebagai piloting project pengawasan partisipatif oleh Bawaslu Gayo Lues pada tahun 2024.

Program ini memiliki nilai strategis karena menunjukkan adanya ruang partisipasi masyarakat dalam mengawal proses demokrasi. Pengawasan tidak semata-mata menjadi tanggung jawab lembaga penyelenggara pemilu, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat.

Desa sebagai basis kehidupan masyarakat memiliki posisi penting dalam membangun budaya demokrasi.
Ketika masyarakat diberikan ruang untuk berpartisipasi dan memahami pentingnya pengawasan, maka demokrasi dapat tumbuh dari akar rumput.

Penetapan Ulun Tanoh sebagai piloting project pengawasan partisipatif menjadi bukti bahwa desa dapat menjadi laboratorium sosial bagi berbagai inovasi yang memperkuat kehidupan masyarakat.

Perpustakaan Desa dan Investasi Sumber Daya Manusia

Prestasi Desa Ulun Tanoh tidak berhenti pada tata kelola pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat. Perhatian terhadap literasi juga menjadi bagian penting dari pembangunan.
Pada tahun 2025, Perpustakaan Desa Ulun Tanoh berhasil meraih Juara I Perpustakaan Desa Terbaik. Capaian ini kembali mendapatkan apresiasi dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Aceh pada tahun 2026.
Bagi saya sebagai seorang guru, prestasi di bidang perpustakaan memiliki makna yang sangat penting. Perpustakaan bukan hanya ruangan yang dipenuhi buku. Perpustakaan adalah jendela pengetahuan dan investasi jangka panjang bagi generasi muda.

Membangun perpustakaan berarti membangun manusia. Sebab, desa yang memiliki budaya membaca dan belajar akan memiliki modal sosial yang kuat untuk menghadapi perubahan zaman.
Kepala Desa Ulun Tanoh tampaknya memahami bahwa pembangunan manusia tidak kalah penting dibandingkan pembangunan infrastruktur.

Beasiswa untuk Masyarakat: Pendidikan sebagai Jalan Perubahan

Langkah yang juga patut diapresiasi adalah terjalinnya MoU antara Desa Ulun Tanoh dengan Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) pada tahun 2026 mengenai beasiswa bagi masyarakat Ulun Tanoh.
Kerja sama ini menunjukkan bahwa pembangunan desa mulai diarahkan pada investasi sumber daya manusia. Pendidikan merupakan salah satu jalan paling penting untuk memutus mata rantai keterbatasan dan membuka peluang masa depan.

Beasiswa bagi masyarakat desa bukan sekadar bantuan pendidikan. Ia adalah pesan bahwa anak-anak desa juga memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi.

Jika program seperti ini terus dikembangkan, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penerima beasiswa, tetapi juga oleh keluarga dan masyarakat dalam jangka panjang.

Pemimpin yang Meninggalkan Jejak

Dari berbagai capaian tersebut, kita dapat melihat bahwa kepemimpinan Suhardinsyah, S.Pd di Desa Ulun Tanoh memiliki satu benang merah: membangun desa melalui prestasi, partisipasi, literasi, ketahanan pangan, dan pendidikan.

Tentu masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Prestasi bukanlah garis akhir. Justru penghargaan menjadi tantangan agar pemerintah desa terus mempertahankan kualitas pelayanan dan menghadirkan inovasi baru.

Kepemimpinan desa pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak penghargaan yang terpajang di kantor desa. Ukuran terpenting adalah seberapa besar masyarakat merasakan manfaat dari kepemimpinan tersebut.

Apakah anak-anak mendapatkan kesempatan pendidikan? Apakah masyarakat memperoleh pelayanan yang baik? Apakah potensi desa dikembangkan? Apakah masyarakat dilibatkan? Apakah generasi muda diberikan ruang untuk berkembang?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah sebuah kepemimpinan benar-benar meninggalkan jejak.

Kisah Desa Ulun Tanoh memberikan pelajaran bahwa desa bukanlah wilayah yang kecil dalam menentukan masa depan bangsa. Dari desa dapat lahir inovasi, prestasi, budaya literasi, ketahanan pangan, partisipasi demokrasi, hingga generasi muda yang berpendidikan.

Karena itu, sosok Suhardinsyah, S.Pd patut dilihat bukan semata sebagai seorang kepala desa yang mengoleksi penghargaan, tetapi sebagai pemimpin yang telah berusaha menjadikan prestasi sebagai bagian dari proses pengabdian.
Pada akhirnya, pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang ingin dikenang karena jabatannya. Ia adalah pemimpin yang meninggalkan perubahan dan manfaat bagi masyarakatnya.

Dari Ulun Tanoh kita belajar, bahwa membangun desa berarti membangun manusia. Dan ketika desa mampu melahirkan prestasi, sesungguhnya yang sedang dibangun adalah masa depan Indonesia dari akar rumput.(*)

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts