PALEMBANG – Upaya penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera Selatan mendapat suntikan tenaga yang signifikan dari negara tetangga. Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) mengerahkan pesawat amfibi andalannya, Bombardier CL-415MP, yang terbukti sangat efektif dalam mempercepat proses pemadaman titik api.
Armada udara spesialis penanggulangan bencana dengan nomor registrasi M71-02 tersebut memamerkan manuver impresif saat beroperasi di lapangan. Pesawat ini terekam kamera tengah melakukan teknik water scooping sebuah metode penyedotan air secara presisi yang dilakukan langsung saat pesawat melayang di atas permukaan aliran Sungai Lumpur, Sumatera Selatan.
Ketangguhan teknis Bombardier CL-415MP menjadi sorotan utama dalam operasi ini. Pesawat rancangan Kanada tersebut memiliki spesifikasi mumpuni untuk meraup volume air dalam jumlah masif dengan durasi yang sangat singkat.
Berdasarkan laporan teknis operasi di lapangan, armada ini sanggup menyedot hingga 6.137 liter air hanya dalam hitungan 12 detik saat melintasi permukaan sungai. Efisiensi waktu ini menjadi kunci krusial dalam misi penanganan bencana karhutla.
“Pesawat tersebut mampu mengangkut sekitar 6.137 liter air dalam sekali pengambilan. Proses penyedotan dari sungai dilaporkan hanya membutuhkan waktu sekitar 12 detik,” tulis laporan penanganan operasi darurat setempat.
Tak hanya cepat dalam proses pengisian muatan, mobilitas pesawat amfibi ini juga terbilang luar biasa. Rangkaian prosedur dari mulai pengambilan air di sungai hingga pesawat tiba dan bermanuver di atas titik panas (hotspot) tercatat hanya memakan waktu sekitar tujuh menit.
Begitu tiba di lokasi target, pesawat ini langsung melancarkan aksi pengeboman air (water bombing) dari udara. Operasi pemadaman tersebut difokuskan untuk mengguyur kawasan karhutla yang terus meluas, dengan cakupan area mencapai 20 kilometer persegi.
Guna memaksimalkan daya jelajah dan respons cepat tanggap darurat, pesawat bantuan dari Negeri Jiran ini disiagakan secara penuh di Pangkalan Udara Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Palembang. Kehadiran alutsista ini diharapkan mampu memutus rantai penyebaran api dan meminimalisasi kabut asap yang kerap menjadi ancaman tahunan di Pulau Sumatera.[]











