BREAKING

TEKNOLOGI

Algoritma vs Manusia: Berebut Kendali Narasi di Era AI

Algoritma dan AI kini menggeser peran media massa sebagai pengendali informasi. Bagaimana praktisi komunikasi dan publik beradaptasi di era digital ini?

SEANTERONEWS.com – Era di mana media massa menjadi satu-satunya “penjaga gerbang” (gatekeeper) informasi kini telah usai. Saat ini, arus informasi yang sampai ke layar gawai masyarakat tak lagi murni ditentukan oleh meja redaksi, melainkan dikendalikan oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan algoritma platform digital.

Dampaknya sangat signifikan. Kualitas atau substansi sebuah pesan bukan lagi jaminan tunggal bahwa informasi tersebut akan diterima publik. Cara mesin merekomendasikan dan mendistribusikan pesan tersebut kini menjadi faktor penentu utama.

Perubahan drastis lanskap media ini menjadi sorotan utama dalam acara GoodTalk Off-Air hasil kolaborasi Good News From Indonesia (GNFI) dan Perhumas. Mengusung tema “Komunikasi Publik dan Kuasa Algoritma: Siapa yang Mengendalikan Narasi Hari Ini?”, diskusi ini dihelat di Student Union Sampoerna University, Jakarta, pada Kamis (20/08/2026). Para pakar dari lintas sektoral sepakat bahwa penyajian konteks yang utuh adalah tameng utama agar informasi tidak terdistorsi di ruang publik.

Substansi dan Transparansi di Tengah Gempuran Sensasi

Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana isu-isu krusial sering kali tenggelam oleh konten sensasional yang dirancang sekadar untuk memancing emosi audiens demi meraih predikat “viral”. Padahal, fondasi utama komunikasi publik adalah kredibilitas dan kejernihan pesan.

Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement, Sustainability L’Oreal Indonesia, menyoroti hal ini dari kacamata industri. Menurutnya, konsumen modern sangat kritis dan skeptis, terutama terhadap ulasan produk di ranah maya. Untuk menembus dinding skeptisisme itu, sebuah jenama harus mengedepankan konsistensi dan transparansi.

Sebagai contoh, L’Oreal yang telah berdiri sejak 1909 memilih untuk tetap setia pada riset berbasis sains. Meski proses Research and Development (R&D) memakan waktu lama di tengah tren peluncuran produk instan oleh kompetitor, konsistensi inilah yang menjaga loyalitas konsumen. “Jika hari ini kita bilang A, besok bilang B, konsumen akan bingung dan perlahan meninggalkan kita,” tegas Melanie.

Transparansi juga diwujudkan dengan edukasi proaktif. L’Oreal menyediakan situs web khusus agar konsumen dapat membedah komposisi produk yang mereka gunakan, guna meluruskan misinformasi yang kerap beredar di internet. Lebih dari sekadar berjualan, komunikasi harus membawa nilai (value). Kampanye produk isi ulang (refillable), menyoroti para pekerja di balik layar, hingga kampanye edukasi anti-kekerasan seksual adalah cara jenama tersebut membangun koneksi emosional dan kemanusiaan dengan audiensnya.

Ketika AI Merumuskan Makna Pesan

Pergeseran narasi tak hanya dipengaruhi oleh algoritma media sosial, tetapi makin diperparah oleh dominasi AI dalam mesin pencari. Janoe Arijanto, mantan CEO Dentsu One Indonesia sekaligus Ketua Umum P3I (2018–2025), memaparkan realita baru ini.

Fitur seperti AI Overview pada Google memungkinkan pengguna mendapatkan rangkuman informasi secara instan tanpa perlu mengklik tautan situs web. Di sinilah letak ancamannya: informasi yang diterima publik bukan lagi kalimat orisinal yang diracik oleh manusia, melainkan hasil kurasi dan penyusunan ulang oleh mesin.

“Persoalannya bukan sekadar bagaimana berita itu berpindah platform. Namun narasi, pemaknaan, nilai, bahkan diksi kini diformulasikan oleh entitas non-manusia. Itu masalah utamanya,” urai Janoe.

Ironisnya, banyak praktisi komunikasi dan kehumasan yang masih gagap merespons disrupsi ini. Janoe mengingatkan bahwa jika strategi komunikasi tidak segera berevolusi untuk berhadapan dengan sistem AI, maka kampanye atau pesan yang dibangun dengan susah payah akan kehilangan arah dan tak sampai ke target audiens.

Fenomena Reverse Agenda Setting dan Urgensi Literasi

Ancaman terhadap kendali narasi tidak hanya datang dari mesin, tetapi juga dari masyarakat itu sendiri. Diyan Lestari, Akademisi dari Sampoerna University, menyoroti masifnya tren User-Generated Content (UGC). Kini, masyarakat bukan lagi konsumen pasif, melainkan produsen dan distributor informasi.

Hal ini melahirkan fenomena reverse agenda setting. Jika di masa lalu media massa yang mendikte isu apa yang penting bagi publik, kini sebaliknya. Percakapan akar rumput yang viral di media sosial justru kerap mendikte tajuk utama media massa arus utama.

Dengan demokratisasi produksi pesan yang begitu bebas, Diyan memberikan peringatan keras akan bahaya laten yang mengintai. “Tanpa diimbangi dengan literasi media yang mumpuni, kebebasan arus informasi ini bisa dengan mudah tergelincir menjadi jurang misinformasi,” pungkasnya.

Pada akhirnya, di tengah pusaran algoritma dan kecerdasan buatan, kolaborasi antara adaptasi teknologi oleh praktisi media dan penguatan literasi oleh masyarakat adalah kunci agar kebenaran narasi tetap terjaga.[]

 

Sumber: GNFI

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts