BREAKING

INTERNASIONAL

Iran Adopsi Taktik Rusia, Tentara Ahli AS Tewas di Yordania

Dua ahli pertahanan udara AS tewas dalam serangan Iran di Yordania. Laporan mengungkap Iran mengadopsi taktik gabungan rudal dan drone ala Rusia.

SEANTERONEWS.com — Perubahan strategi militer Iran dalam menembus benteng pertahanan udara Amerika Serikat (AS) kian mengancam posisi Pentagon di Timur Tengah. Insiden mematikan yang menimpa Pangkalan Udara Al-Muwaffaq Salti pada 17 Juli lalu menguatkan indikasi bahwa Teheran telah berhasil mengadopsi taktik pertempuran gabungan (combined-arms strategy) yang terinspirasi dari konflik di Ukraina.

Laporan eksklusif yang dirilis The New York Times membongkar identitas dua dari tiga prajurit AS yang gugur dalam insiden tersebut. Keduanya ternyata merupakan personel khusus dari unit pertahanan udara yang bermarkas di Jerman. Mereka diterjunkan langsung ke Yordania untuk menganalisis pola serangan rudal serta pesawat nirawak (drone) guna memperkuat doktrin pertahanan militer AS.

Para pakar militer menilai Iran berguru pada cara Rusia melumpuhkan sistem radar dan pertahanan lawan di Ukraina. Dalam skenario serangan gempuran simultan, rudal balistik dan jelajah diluncurkan terlebih dahulu untuk memancing perhatian serta menghabiskan amunisi penangkis musuh. Begitu radar dan sistem pertahanan terdistraksi, gelombang drone intai maupun penyerang diterbangkan untuk menghancurkan sasaran utama.

Seth Jones, Direktur Program Keamanan Internasional di Center for Strategic and International Studies (CSIS), menegaskan bahwa kombinasi tersebut menciptakan saturasi pada sistem radar pencegat.

“Skema peluncuran rudal dan drone secara bersamaan ini memaksa sistem pertahanan bekerja melampaui kapasitas idealnya, membuat kalkulasi penangkisan menjadi sangat rumit,” ungkap Jones.

Gugurnya dua analis pertahanan AS ini menjadi pukulan telak bagi Komando Pusat AS (CENTCOM). Selama beberapa bulan terakhir, CENTCOM intensif mendatangkan pakar strategi pertahanan untuk memetakan dinamika taktik Iran yang terus berkembang sejak perang 12 hari pada 2025 lalu.

Kematian para personel ahli ini tidak hanya memaparkan kerapuhan pertahanan udara AS di kawasan, tetapi juga memicu kecemasan mendalam di tubuh Pentagon terkait menipisnya stok rudal pencegat serta akselerasi perubahan peta pertempuran modern yang makin sulit diprediksi. []

image_pdfimage_print
author avatar
Iqbal Sahputra

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts