SEANTERONEWS.com – Dalam satu dekade terakhir, jagat keamanan siber dunia terus diselimuti teka-teki mengenai sosok peretas yang paling dicari namun tak pernah tertangkap: Phineas Fisher. Dikenal sebagai peretas ideologis atau hacktivist, ia menjadi legenda di dunia bawah tanah digital berkat keberhasilannya meruntuhkan perusahaan pembuat spyware papan atas global.
Kisah Phineas bermula pada Agustus 2014, saat ia meretas Gamma Group, perusahaan di balik perangkat lunak pengintai FinFisher. Dengan merilis data curian ke publik, ia membuka kedok teknologi mata-mata yang sering digunakan pemerintah untuk mengawasi warga.
Namun, aksinya yang paling fenomenal adalah meretas Hacking Team, perusahaan asal Italia yang dikenal sebagai pionir bisnis spyware pemerintah. Phineas mencuri lebih dari 400 gigabyte data, mulai dari kode sumber hingga daftar klien rahasia. Kebocoran ini memicu skandal politik di berbagai negara, memaksa CEO Hacking Team menjual perusahaannya dengan harga simbolis hanya satu Euro bertahun-tahun kemudian.
Tidak berhenti di sana, Phineas juga menargetkan kepolisian Catalunya (Mossos d’Esquadra) dan partai politik penguasa di Turki, sebagai bentuk solidaritas terhadap ideologi anarkis dan perjuangan wilayah otonom Rojava di Suriah.
Satu tindakan yang membuat Phineas Fisher berbeda dari peretas kriminal lainnya adalah aksi peretasan terhadap Cayman National Bank cabang Isle of Man pada 2016. Dalam sebuah wawancara, ia mengaku meretas bank tersebut untuk mencuri uang dan mendanai perjuangan Rojava.
“Saya mencari cara ilegal untuk menghasilkan uang agar bisa melakukan sesuatu yang berguna. Setelah memiliki kelebihan, saya mendonasikannya,” klaimnya dalam sebuah wawancara. Ia bahkan sempat meluncurkan program Hacktivist Bug Bounty, sebuah inisiatif untuk memberi imbalan bagi peretas lain yang berhasil membongkar aktivitas ilegal perusahaan besar.
Hingga saat ini, jejak digital Phineas Fisher telah lenyap. Akun media sosialnya telah dihapus, dan tidak ada bukti fisik yang mengarah pada identitas aslinya. Berbagai spekulasi muncul—apakah ia seorang peretas tunggal dengan ideologi anarkis, ataukah persona rekayasa yang dikendalikan oleh agen intelijen negara tertentu?
Phineas sendiri pernah menyatakan bahwa ia sering memberikan informasi palsu tentang dirinya. “Segala sesuatu yang saya katakan tentang identitas saya adalah setengah lelucon (trolling),” ucapnya dalam salah satu percakapan lawas.
Beberapa analis berspekulasi bahwa Phineas Fisher mungkin bukan satu orang, melainkan identitas yang dipakai oleh individu berbeda dari waktu ke waktu. Namun, mereka yang telah berkomunikasi langsung dengannya selama bertahun-tahun cenderung percaya bahwa ia adalah individu nyata dengan keyakinan ideologis yang konsisten.
Seiring berlalunya waktu, keberadaan Phineas Fisher tetap menjadi salah satu misteri siber terbesar sepanjang masa. Apakah ia masih aktif di balik layar, atau telah pensiun dengan tenang, dunia keamanan siber mungkin tidak akan pernah tahu pasti. Yang tersisa hanyalah peringatan bagi perusahaan teknologi bahwa tidak ada sistem yang benar-benar aman dari peretas yang memiliki motivasi ideologis yang kuat.[]










