BREAKING

EKONOMI

Rupiah Jadi Mata Uang Terbaik di Asia Pekan Ini

Rupiah mencatat kinerja terbaik di Asia dengan penguatan 0,89%. Investasi domestik dan sentimen The Fed jadi pendorong utama.

SEANTERONEWS.com – Nilai tukar rupiah menunjukkan tren pemulihan yang signifikan di tengah dinamika pasar keuangan global. Sepanjang pekan ini, mata uang Garuda berhasil mencatatkan kinerja paling impresif di kawasan Asia, mengungguli mata uang negara tetangga di tengah pelemahan tipis indeks dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (17/7/2026), rupiah berhasil menguat 0,53 persen ke level Rp17.885 per dolar AS. Secara akumulatif dalam sepekan (point-to-point), rupiah sukses mencatatkan penguatan sebesar 0,89 persen.

Pencapaian ini menempatkan rupiah sebagai jawara di Asia, jauh melampaui won Korea Selatan yang hanya menguat 0,76 persen, serta dolar Singapura dan yuan China yang masing-masing naik tipis 0,02 persen dan 0,01 persen. Kondisi ini kontras dengan rupee India yang justru terdepresiasi tajam sebesar 1,01 persen.

Investasi Domestik Jadi Penopang

Pemulihan rupiah tidak semata-mata dipengaruhi faktor eksternal. Kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia menjadi motor penggerak utama. Data realisasi investasi sepanjang semester pertama 2026 menjadi bukti nyata ketahanan ekonomi nasional.

Hingga Juni 2026, investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini telah memenuhi hampir setengah dari target investasi nasional tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp2.041,3 triliun. Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa capaian tersebut adalah sinyal bahwa minat investor global terhadap Indonesia tetap kokoh di tengah badai ketidakpastian ekonomi dunia.

Sentimen The Fed dan Inflasi AS

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap mata uang negara berkembang mulai melandai seiring meredupnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Inflasi AS bulan Juni yang mencatatkan angka lebih rendah dari perkiraan pasar menjadi katalis positif.

Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Juli kini menyusut drastis ke level 11 persen, turun dari 25 persen pada pekan sebelumnya. Penurunan ekspektasi ini memberikan ruang napas bagi mata uang emerging market untuk melakukan koreksi ke atas.

Meski demikian, pasar tetap harus waspada. Pejabat The Fed, Philip Jefferson, masih membuka peluang pengetatan kebijakan jika inflasi kembali bergejolak. Selain itu, tensi geopolitik antara AS dan Iran menjadi faktor risiko yang patut dicermati karena berpotensi memicu volatilitas harga aset global.

Namun, dengan kombinasi fundamental domestik yang kuat dan arus investasi yang terjaga, rupiah diprediksi memiliki ruang untuk melanjutkan tren penguatan jangka pendek. Stabilitas ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus menjaga kepercayaan investor sekaligus memitigasi dampak dinamika ekonomi global yang masih penuh tantangan.

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts