SEANTERONEWS.com – Perjalanan panjang OnePlus di pasar Amerika Serikat dan Eropa resmi berakhir. Jenama yang dahulu dikenal dengan filosofi “Never Settle” ini akhirnya mengumumkan penghentian operasional penjualan ponsel pintar di wilayah Barat, sekaligus menandai akhir dari sebuah era bagi komunitas penggemar setia Android di kedua kawasan tersebut.
Pengumuman ini tidak hanya mengakhiri kehadiran fisik OnePlus, tetapi juga membawa perubahan fundamental pada perangkat lunak bagi pengguna yang masih tersisa. OnePlus mengonfirmasi bahwa OxygenOS sistem operasi yang menjadi identitas utama dan alasan utama pengguna memilih OnePlus akan digantikan sepenuhnya oleh ColorOS milik perusahaan induknya, Oppo, pada pembaruan Android 17 mendatang.
Runtuhnya Janji “Tak Akan Pernah Menyerah”
Sejak 2022, sinyal kemunduran OnePlus sebenarnya sudah mulai terlihat. Meski salah satu pendirinya, Pete Lau, sempat membantah keras rumor penarikan diri dari pasar Amerika Utara dan menjanjikan pertumbuhan yang kuat, realitas pasar berkata lain. Tantangan berat untuk bersaing dengan dominasi Apple dan Samsung, serta minimnya dukungan dari operator seluler besar di AS, membuat OnePlus sulit bertahan.
Kejadian peluncuran OnePlus 15 tahun lalu yang kacau di Amerika Utara menjadi titik balik paling nyata. Kelangkaan stok dan hilangnya ciri khas fotografis yang selama ini menjadi andalan, membuat perangkat tersebut kehilangan daya tarik di mata komunitas antusias.
Nasib Pengguna dan Komunitas
Bagi pengguna yang masih menggenggam ponsel OnePlus, perusahaan memberikan jaminan bahwa dukungan purnajual, pembaruan keamanan, dan garansi akan tetap dihormati. Namun, bagi pengguna yang enggan bermigrasi ke ColorOS 17, OnePlus menyediakan opsi untuk menolak (opt-out) pembaruan tersebut.
Tidak hanya perangkat keras, “rumah” bagi komunitas OnePlus juga akan segera ditutup. Situs komunitas yang selama ini menjadi pusat diskusi, panduan, dan dokumentasi sejarah merek tersebut akan ditutup secara permanen pada 16 Agustus 2026. Perusahaan menyarankan pengguna untuk segera mengunduh konten atau panduan penting sebelum akses publik diputus.
Pelajaran bagi Industri
Keluarnya OnePlus dari AS dan Eropa menambah daftar panjang merek ponsel yang “gugur” di pasar yang brutal, menyusul HTC, Sony, LG, dan terbaru, HMD Global (Nokia). Tanpa dukungan operator (carrier support), merek baru sangat sulit untuk bertahan di pasar Barat, kecuali melalui penjualan langsung secara daring yang jangkauannya terbatas.
Kini, pertanyaan besarnya adalah siapa yang akan mengisi kekosongan tersebut? Dengan hilangnya satu lagi jenama antusias, pilihan bagi konsumen Android yang mencari performa flagship dengan harga kompetitif semakin menyusut. Bagi penggemar setia, OnePlus 15 mungkin akan menjadi “surat cinta” terakhir dari sebuah merek yang pernah berjanji untuk tidak pernah menyerah, namun akhirnya harus memilih untuk berhenti.











