BREAKING

ACEHKESEHATAN

HIV di Banda Aceh dan Jebakan “Kesombongan Moral” Kita

Kasus HIV di Banda Aceh memicu stigma sosial. Artikel ini merefleksikan pentingnya empati dan introspeksi diri dibanding menghakimi sesama.

BANDA ACEH – Temuan sejumlah kasus HIV di kalangan usia produktif (21–30 tahun) di rumah kos sekitar kampus di Banda Aceh bukanlah sekadar angka statistik dalam laporan kesehatan. Ia adalah alarm keras bagi seluruh elemen masyarakat. Namun, sayangnya, respons yang muncul ke permukaan justru lebih didominasi oleh “ruang sidang” media sosial, di mana setiap orang merasa berhak menjadi hakim atas moralitas sesama.

Alih-alih membedah akar persoalan seperti melemahnya ketahanan keluarga, disfungsi sistem pendidikan, hingga lingkungan yang permisif sebagian masyarakat justru memilih jalan pintas: menghujat. Inilah yang dalam sosiologi kita sebut sebagai manifestasi dari “kesombongan moral”.

Sosiolog Erving Goffman dalam teorinya tentang stigma mengingatkan bahwa pelabelan sosial yang disertai penghinaan justru menciptakan tembok tebal. Ketika HIV dipandang semata-mata sebagai “dosa moral”, para penyintas akan merasa takut, malu, dan memilih untuk bersembunyi.

Dampaknya fatal: mereka enggan mencari pertolongan medis hingga kondisinya terlambat. Masyarakat yang gemar menghakimi, sadar atau tidak, sedang memperparah krisis kesehatan yang ada.

Kita terlalu terbiasa dengan dikotomi moral yang sempit. Kita sibuk mengutuk kesalahan yang tampak di mata, namun begitu lunak terhadap kejahatan yang tidak kasat mata: korupsi, fitnah, penyalahgunaan kekuasaan, hingga pengkhianatan amanah publik.

Apakah moralitas hanya soal satu jenis dosa? Mengapa kita begitu cerdas menyalahkan orang lain sementara diri sendiri belum tentu lebih bersih?

Dalam psikologi sosial, Leon Festinger menyebut fenomena ini sebagai cognitive dissonance—kecenderungan manusia mempertahankan citra diri sebagai orang baik dengan cara menonjolkan kesalahan orang lain. Kita membangun “panggung keshalehan” yang penuh tepuk tangan, namun kering akan keteladanan.

Bahkan dalam perspektif teologis, dosa pertama dalam sejarah bukanlah kesalahan fisik, melainkan kesombongan Iblis yang merasa dirinya lebih mulia dari Adam. Ketika seseorang merasa dirinya paling suci dan paling berhak menghakimi, ia sejatinya sedang mengulang sejarah kesombongan yang sama.

Aceh hari ini tidak membutuhkan lebih banyak hakim di media sosial. Aceh membutuhkan pendidik yang hadir, orang tua yang mengayomi, dosen yang membimbing dengan hati, serta pemerintah yang merumuskan kebijakan berbasis sains, bukan sekadar retorika.

Ukuran moralitas seseorang bukanlah seberapa keras ia meneriakkan celaan, melainkan seberapa konsisten ia menjaga integritas dan kejujurannya sendiri. Mari kita berhenti mencari “kambing hitam”. Saatnya beralih pada upaya penyelamatan yang berbasis empati.

Sebuah peradaban tidak hancur hanya karena dosa-dosa individual yang nampak. Peradaban lebih sering runtuh karena kemunafikan orang-orang yang merasa dirinya paling suci. Sudah saatnya kita membangun generasi yang tidak hanya pandai bicara tentang moral, tetapi benar-benar menghidupi moralitas dengan kejujuran, kasih sayang, dan kerendahan hati.

Mari kita berani berkata dengan jujur, “Kami semua memiliki kelemahan dan harus terus memperbaiki diri.” Hanya dengan itulah, kita bisa melangkah keluar dari kegelapan menuju masyarakat yang lebih sehat dan beradab.[]

Sumber: potretonline.com

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts