BANDA ACEH – Keputusan Pemerintah Aceh yang memberikan kelonggaran bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mengantar anak di hari pertama sekolah mendadak viral dan menuai apresiasi luas. Namun, di balik kebijakan yang tampak administratif itu, tersimpan pesan mendalam yang menyentil nurani. Bagi para guru yang setiap hari berhadapan dengan siswa di ruang kelas, kebijakan ini adalah sebuah “tamparan moral” telak bagi para orang tua modern.
Negara seolah tengah berteriak mengingatkan sebuah kebenaran fundamental yang mulai terlupakan: anak bukanlah barang titipan, dan sekolah bukanlah tempat penitipan anak (daycare).
Seorang pendidik senior di Aceh, dengan lirih mengenang masa kecilnya. Hangatnya genggaman tangan ayah dan ibu saat mengantar ke sekolah bukanlah sekadar perjalanan fisik, melainkan transfer keberanian, rasa aman, dan keyakinan bahwa sang anak tidak berjalan sendirian.
Sayangnya, pemandangan indah itu kini menjadi barang langka. Di era disrupsi ini, banyak orang tua tanpa sadar mereduksi makna pendidikan.
“Sebagai guru, kami sering menyaksikan fenomena menyedihkan. Sebagian orang tua merasa tugasnya selesai saat uang sekolah terbayar lunas, seragam terbaik melekat di tubuh anak, atau gadget canggih berada di genggaman. Mereka bangga telah memenuhi kebutuhan biologis dan materi, tapi gagal secara moral,” ungkap guru tersebut.
Pendidikan Dimulai dari Hati, Bukan Dompet
Realitas pahit di ruang kelas menunjukkan anak-anak tidak merindukan kemewahan fasilitas. Mereka merindukan waktu, perhatian, pelukan tulus, dan percakapan dari hati ke hati. Ironi masyarakat modern saat ini adalah bekerja tanpa henti demi masa depan anak, namun justru kehilangan kesempatan emas untuk benar-benar mengenal siapa anak mereka sesungguhnya.
Pesan ini sejalan dengan Attachment Theory dari John Bowlby, yang menegaskan bahwa kelekatan emosional (secure attachment) antara anak dan orang tua adalah fondasi utama rasa aman, kepercayaan diri, dan ketahanan mental anak menghadapi tekanan hidup.
Sementara itu, sosiolog Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa keluarga adalah “universitas” pertama. Karakter, etika, disiplin, dan nilai-nilai kehidupan tidak bisa diunduh dari internet atau diajarkan secara instan oleh sekolah. Semua itu tumbuh dari teladan yang disaksikan anak setiap hari di rumah.
Rumah yang Hening, Kebijakan yang Nyata
Sebagai garda terdepan pendidikan, para guru dapat membedakan dengan jelas antara anak yang tumbuh dalam pelukan kasih sayang dan anak yang tumbuh “diasuh” oleh gawai. Meningkatnya kasus perundungan (bullying), krisis empati, dan memudarnya sopan santun sering kali merupakan cermin dari rumah-rumah yang kehilangan kehangatan emosional. Anggota keluarga mungkin tinggal satu atap, namun hidup dalam dunia yang terpisah oleh sekat maya.
Oleh karena itu, kebijakan Pemerintah Aceh memberikan izin mengantar anak di hari pertama sekolah adalah langkah awal yang brilian. Namun, ini tidak boleh berhenti sekadar seremonial. Negara dituntut menciptakan ekosistem yang benar-benar ramah keluarga seperti regulasi jam kerja yang manusiawi agar orang tua memiliki waktu untuk mendekap jiwa anak-anaknya.
“Revolusi pendidikan tidak dimulai di ruang kelas, tapi di ruang tamu setiap rumah. Bangsa ini tidak akan runtuh karena kurang gedung sekolah, tapi akan runtuh ketika rumah-rumah berhenti menjadi tempat lahirnya karakter dan keteladanan,” tegas sang pendidik.
Mengantar anak ke sekolah adalah pertaruhan masa depan bangsa. Pertanyaannya kini kembali kepada setiap ayah dan ibu: masihkah kita bersedia hadir, atau terus menyerahkan amanah suci itu sepenuhnya kepada guru?
Sebab guru hanya mampu mengajarkan ilmu di buku, tapi hanya orang tua yang bisa meniupkan ruh kasih sayang dan makna kehidupan.[]











