SEANTERONEWS.com – Kombinasi cuaca ekstrem berupa gelombang panas (heatwave) dan badai petir melanda sejumlah wilayah di Amerika Serikat (AS), memicu kerusakan infrastruktur kelistrikan yang berujung pada pemadaman massal. Pada masa puncaknya, gangguan ini sempat memutus aliran listrik bagi hampir satu juta pelanggan.
Hingga Senin (6/7/2026) waktu setempat, proses pemulihan jaringan terus diupayakan secara bertahap. Data terbaru menunjukkan sekitar 370 ribu pelanggan masih belum mendapatkan kembali pasokan listrik akibat kerusakan parah pada jalur distribusi utama yang belum sepenuhnya selesai diperbaiki.
Sapu angin kencang disertai petir di wilayah timur AS merobohkan banyak pepohonan, yang kemudian menimpa kabel-kabel listrik di negara bagian berpopulasi padat seperti Michigan, Pennsylvania, New York, Connecticut, dan New Jersey.
Sebelum tim teknis diturunkan untuk melakukan perbaikan, jumlah pelanggan yang terdampak sempat melonjak tajam. Pada Minggu (5/7), tercatat sekitar 779 ribu sambungan padam. Angka tersebut terus merayap hingga mendekati 900 ribu ketika area badai meluas ke kawasan timur.
Sebelum badai menerjang, beban jaringan listrik di AS sebenarnya sudah berada di bawah tekanan besar akibat penggunaan pendingin ruangan secara masif selama gelombang panas. PJM Interconnection, operator jaringan listrik terbesar di AS yang melayani sekitar 67 juta konsumen di wilayah Mid-Atlantic dan Midwest, sebelumnya telah menerapkan langkah kedaruratan.
Mereka meminta para pelanggan yang terdaftar dalam program efisiensi energi untuk menekan penggunaan listrik pada jam-jam sibuk. Langkah pencegahan ini terbukti krusial dalam menghindari pemadaman bergilir yang lebih luas, terutama ketika suhu udara di beberapa titik melonjak hingga melebihi 39 derajat Celsius selama libur Hari Kemerdekaan AS.
Selain melumpuhkan sistem energi, cuaca buruk kali ini juga mendatangkan petaka bagi keselamatan warga. Di New Jersey, pihak kepolisian dan dinas kesehatan setempat tengah melakukan penyelidikan mendalam terhadap sedikitnya 29 kasus kematian yang diduga kuat berhubungan dengan sengatan suhu ekstrem. Sebagian besar korban ditemukan di tempat tinggal maupun area luar ruang tanpa fasilitas pendingin udara yang memadai.
Tragedi lain dilaporkan terjadi di Michigan. Dua anak berusia 8 dan 12 tahun ditemukan meninggal dunia. Keduanya diduga mengalami keracunan gas karbon monoksida yang dihasilkan oleh generator listrik portabel yang dioperasikan di dalam area tertutup saat pemadaman listrik berlangsung.
Rangkaian peristiwa ini kembali memperlihatkan kerentanan infrastruktur publik terhadap perubahan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, sekaligus menjadi peringatan penting mengenai aspek keselamatan warga dalam menghadapi situasi darurat energi.[]











