SEANTERONEWS.com – Toyota Motor Corporation, dilaporkan berpeluang besar untuk merebut kembali mahkota penjualan mobil terbesar di pasar Amerika Serikat (AS). Lonjakan permintaan terhadap lini kendaraan bertenaga bensin-listrik (hybrid) menjadi pendorong utama Toyota dalam membayangi dominasi General Motors (GM) di pasar domestiknya sendiri.
Berdasarkan laporan analisis terbaru dari Cox Automotive, pangsa pasar Toyota di AS diproyeksikan tumbuh menjadi 15,8 persen pada paruh pertama tahun 2026 ini. Sebaliknya, pangsa pasar GM diperkirakan menyusut hampir satu persen ke posisi 16.8 persen.
Jika tren pergeseran preferensi konsumen ke arah kendaraan hemat bahan bakar terus berlanjut, Toyota memiliki peluang nyata untuk menempati posisi nomor satu sebagai produsen dengan penjualan mobil terbanyak di Negeri Paman Sam sepanjang tahun 2026.
“Toyota memiliki peluang terbuka. Konsumen saat ini menunjukkan ketertarikan tinggi pada kendaraan hybrid, dan pabrikan Detroit masih kesulitan menandingi portofolio tersebut,” ujar Charlie Chesbrough, ekonom senior di Cox Automotive.
Apabila Toyota berhasil mengungguli GM di pasar domestiknya, hal ini akan menandai pergeseran peta persaingan yang sangat bersejarah. GM tercatat konsisten memegang posisi puncak penjualan mobil di AS sejak menggeser Ford pada tahun 1931 silam.
Sepanjang sejarahnya, GM hanya pernah kehilangan takhta tersebut sekali, yakni pada tahun 2021 akibat kelangkaan cip semikonduktor global.
Perubahan arah pasar ini sekaligus menyoroti dampak dari keputusan berisiko CEO GM, Mary Barra, yang bertaruh penuh pada pengembangan kendaraan listrik murni (all-electric) dibanding mempertahankan variasi hybrid. Strategi tersebut diambil kala valuasi pasar Tesla tengah melambung tinggi dan regulasi emisi global semakin diperketat.
Namun, sebagian besar konsumen AS terbukti masih enggan beralih sepenuhnya ke mobil listrik murni, sehingga membuat opsi hybrid milik Toyota mendulang berkah.
Merespons proyeksi ini, juru bicara GM, Jim Cain, membantah spekulasi bahwa perusahaannya akan jor-joran memberikan insentif atau pemotongan harga besar-besaran demi mempertahankan keunggulan volume penjualan dari Toyota. GM berkomitmen menekan pemberian rabat guna memaksimalkan profitabilitas dan arus kas perusahaan.
“Rekam jejak kami membuktikan kedisiplinan kami dalam hal volume produksi, penetapan harga, dan penekanan program insentif,” tegas Cain. Sementara itu, juru bicara Toyota enggan memberikan komentar instan mengenai prospek pencapaian posisi puncak penjualan tersebut.
Hingga bulan Mei, penjualan kendaraan terelektrifikasi Toyota yang didominasi oleh teknologi hybrid meningkat sebesar 5,6 persen di tengah proyeksi penurunan pasar otomotif AS secara keseluruhan.
Sebaliknya, penjualan industri untuk segmen truk ukuran besar (full-size trucks) dan SUV yang menjadi lumbung kekuatan utama produsen domestik seperti GM dan Ford mengalami tren penurunan.
Pelemahan segmen boros bahan bakar ini dipicu oleh dampak konflik bersenjata dengan Iran, yang mengatrol rata-rata harga bensin di AS mendekati angka USD 4 per galon.
Guna mengatasi keterbatasan pasokan untuk model SUV kompak andalannya, Toyota belum lama ini mulai memproduksi versi terbaru RAV4 yang kini hanya dijual dalam varian hybrid di pabrik perakitan Lexington, Kentucky.
Presiden Toyota Motor Manufacturing Kentucky, Kerry Creech, menjelaskan pihaknya menargetkan peningkatan produksi lokal hingga 100.000 unit tahun ini guna melengkapi pasokan impor dari Kanada dan Jepang.
Saat ini, Toyota menawarkan teknologi hybrid pada lebih dari 20 model kendaraan di pasar AS. Sebaliknya, GM sejauh ini baru memiliki varian Corvette elektrik, sedangkan Ford menawarkan teknologi hybrid terbatas pada pikap kecil Maverick, F-150, dan SUV Lincoln Nautilus.
Tekanan serupa juga membayangi kompetitor domestik GM, yaitu Ford. Pabrikan ini terancam kehilangan posisi ketiga di pasar AS dari Hyundai Motor asal Korea Selatan yang juga agresif menawarkan variasi model hybrid. Cox memproyeksikan pangsa pasar Ford akan turun menjadi 12,6 persen pada enam bulan pertama tahun 2026, sedangkan Hyundai diprediksi merangkak naik ke estimasi angka 11,7 persen.[]











